BreakingNews

Baru Kali Ini Terjadi, Ketua RW Sidak ke Sebuah Pastoran di Tangerang

JURNALTIMUR.COM---Lazimnya yang sidak ke paroki atau pastoran tertentu, dilakukan oleh Uskup atau Vicarius Jendral (Vikjen). Tetapi kali ini, sesuatu banget. Sebab yang terjadi adalah seorang Ketua RW di Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang tiba-tiba melakukan sidak ke sebuah pastoran.

Ketua Ketua RW 07 Barata, kelurahan Karang Tengah, Tangerang melakukan sidak ke Pastoran St Bernadeth Ciledug yang terletak di Kompleks Perumahan Barata no 32, Sabtu Sore 16 Oktober 2016.

Ketua RW 07 Barata Karang Tengah Ciledug,
Des Faisal
sedang memotret sebuah kapel
di Pastoran St Bernadeth Ciledug
(foto: fadli)
Sebab pria bernama Des Faisal itu mengaku mendengar suara sumbang dari warganya bahwa di rumah Pastoran itu ada kegiatan misa di kapel pribadi pastoran dan pembangunan gereja,

Kepada jurnaltimur.com, Des Faisal mengatakan saya harus mencek supaya suara sumbang warga saya tidak menjadi fitnah dan dipolitisasikan, bahkan digesek-gesek menjadi isu yang tidak harmonis.

"Saya sudah dengar suara sumbang warga beberapa minggu lalu. Mereka bercerita bahwa di rumah no 32 sedang dibangun rumah ibadah. Karena di depan rumah itu ada tumpukan pasir dan bahan bangunan lainnya," ujar Ketua RW 07 Barata Kelurahan Karang Tengah di depan Pastoran (16/10/16). “Warga mencurigai jangan-jangan ada pembangunan gereja,” imbuhnya.

Pak Ketua RW juga menambahkan bahwa warganya juga melaporkan bahwa ada kegiatan ibadah umat Katolik di di pastoran tersebut. "Mungkin warga saya kurang mengadakan pendekatan," ujar Des Faisal lagi. "Menurut saya laporan seperti ini bisa dikategorikan fitnah karena tidak benar.  Saya takut dosa. Maka saya datang cek apakah benar atau tidak," imbuhnya.

Mendengar penjelasan ketua RW itu, salah satu tokoh umat St Bernadet, Bernardus Hadi Sudjarwo mengatakan bahwa laporan warga RW 07 itu bukan dosa tetapi karena warga tidak mengerti.

Pada saat yang sama, Ketua Lingkungan St Maria I, Kosmas Alprianto mengatakan bahwa pihaknya bersama Romo paroki Pastor Lamma Sihombing CICM dan  Pastor Dundu CICM sudah pernah sowan ke ketua RW. "Maksudnya adalah silahturahmi,"  tutur Kosmas.

Kepada pak RW, Pak Kosmas menjelaskan bahwa Paroki St Bermadet itu gereja yg meliputi beberapa lingkungan. “Jadi rumah pastoran ini hanya alamat surat untuk menyalurkan surat-surat kepada lingkungan. Juga ada apa-apa berkaitan dengan permintaan umat untuk mendapatkan pelayanan para Romo, kami sebagai ketua lingkungan harus lapor di sini,” jelas Kosmas.

“Untuk misa hari minggu, kami misa di gereja tenda di Pinang,” imbuh Kosmas. “Di sini hanya misa harian para romo, itu pun hanya hari Kamis saja,” jelas Kosmas lagi.

Mendengar penjelasan Kosmas dan Sudjarwo itu, Ketua RW 07 Barata langsung mengakui bahwa selama ini warganya salah mengerti tentang kondisi itu. “Nanti saya bisa jelaskan info yang saya dapatkan hari ini, dan setelah mencocokkannya setelah keliling mencek rumah ini. Memang tidak ada yang dibangun,” tuturnya.

“Semoga mereka mengerti. Yang saya takutkan nanti gampang digesek-gesek kalau mereka tidak memahami akan hal sebenarnya,” ujar Des Faisal lagi. .

Akhirnya Pak Des Faisal tahu bahwa rumah no 32 hanyalah kantor. Dan kepala keluarganya Pastor Lamma Sihombing CICM. Dan ia pun tahu bahwa tumpukan pasir dan batu cor di depan pastoran beberapa saat lalu hanya untuk memperbaiki lantai dua yang bocor.

“Beberapa waktu lalu ada tumpukan pasir di depan karena waktu itu, sedang diadakan pengerjaan perbaikain lantai dua yang bocor,” jelas karyawan pastoran, Sonny.

Ketua RW (hitam-kiri)
bersama ketua Lingkungan dan umat
(foto : fadli) 
Sebelum obrolan dengan dengan jurnaltimur.com ini, Ketua RW mengelilingi rumah pastoran mulai dari ruang tamu, ke sekretariat, ke ruang TV, ke ruang tempat penyimpanan alat misa, gua Maria, naik ke lantai atas dan sempat memotret kapel dan ruangan lain.

Kepada jurnaltimur.com, ketua RW itu mempertanyakan mengapa masih ada warga yang selalu bersuara sumbang. “Sebenarnya orang memuji Allah lewat doa, bahkan lagu itu kan bukan masalah,” pungkasnya.

Ketika ia mengerti bahwa kapel itu sama seperti mushola di agamanya, ia pun tepuk jidatnya dan menyesali mengapa ada suara sumbang.  (fadli)

1 komentar:

  1. Kami mayoritas penduduk non muslim di wilayah tempat tinggal kami tdk pernah melarang kaum muslimin membangun rumah ibadat membiarkan mrk menjalankan kegiatan keagamaan mereka tanpa protes apapun.... kami tidak merasa aneh... perbedaan itu hal yang biasa dan sdh menjadi bagian kehidupan kami... mari belajar toleransi di NTT.

    BalasHapus