BreakingNews

Novel Sejarah Majapahit yang menjadi Best Seller.

SYNOPSIS Novel "The Rise of Majapahit"

Setyo Wardoyo; Penulis Novel "The Rise of Majapahit" 

Di masa kejayaan Kerajaan Singosari tepatnya saat pemerintahan Prabu Sri Kertanegara, pada 1289 datanglah seorang laksamana dari Kekaisaran Mongolia bernama Meng Khi untuk menyampaikan perintah Kaisar Kubilai Khan agar Singosari - sebuah kerajaan di belahan selatan yang sedang mulai bergerak menyatukan Nusantara - itu mengakui kedaulatan Mongolia dan tunduk di bawah kekuasaannya.

Menurut prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singosari adalah Tumapel dengan rajanya yang pertama Ken Arok bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Di dalam Kitab Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan pada 1222 ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja. Kitab Nagarakretagama juga menyebutkan bahwa daerah-daerah bawahan Singosari di luar Jawa pada masa Kertanagara antara lain adalah Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.

Tekad Nusantara yang tidak akan pernah tunduk kepada bangsa mana pun di marcapada ini membuat sang prabu tersinggung, marah, dan menolak titah Kaisar Mongolia. Utusan dari seberang itu dipotong daun telinganya kemudian diusir pulang kembali ke negerinya.

Pada 1292 sebuah kerajaan bawahan bernama Gelang-Gelang dengan rajanya Sri Jayakatwang, menyerbu Tumapel, ibu kota Singosari pada saat diselenggarakan upacara agama Tantrayana di istana. Satu-satunya panglima perang yang tersisa yaitu Narrarya Sanggrama Wijaya atau Raden Wijaya beserta sisa-sisa prajuritnya tak kuasa menghadapinya. Saat itu pertahanan ibu kota Singosari memang sedang lemah dikarenakan sejak 1275 sebagian besar kekuatan militernya dikerahkan dalam Ekspedisi Pamalayu di bawah komando Mahisa Anabrang untuk merangkul kerajaan-kerajaan di Sumatera, Semenanjung Melayu, serta menjalin persekutuan dengan kerajaan Campa, disamping untuk memperkuat pengaruh Singosari di Selat Malaka yang merupakan jalur paling menentukan di bidang ekonomi dan politik di Asia bagian selatan pada saat itu.

Istana menjadi lautan api dan Sri Kertanegara tewas. Dyah Gayatri, salah seorang sekar kedaton tertangkap dan ditawan musuh. Sementara Raden Wijaya beserta tiga perwira tinggi kerajaan yaitu Lembu Sora, Nambi, dan Ardaraja di dampingi tujuh orang arya serta kurang lebih enam ratus prajuritnya tak kuasa menghadapi musuh dan ‘lolos dari maut’ kemudian melarikan diri hingga menyeberang ke Madura untuk meminta suaka politik dari Arya Wiraraja, seorang adipati di Sumenep. Atas sarannya, Raden Wijaya segera kembali ke Jawa berserah diri kepada Sri Jayakatwang yang telah mendirikan kerajaan di Kediri. Menyatakan tunduk dan meminta sebidang tanah di Hutan Tarik untuk bermukim dan sekaligus akan dijadikan sebagai lahan perburuan bagi sang raja. Permintaan ini disetujui. Dengan bantuan sisa-sisa prajuritnya dan orang-orang Madura yang dikirim Arya Wiraraja, hutan ini dipersiapkan menjadi sebuah pedukuhan dengan nama Desa Tarik. Pada saat sedang bekerja salah seorang pekerja dari Madura yang merasa haus memetik sebutir buah dari pohon maja atau wilwa yang setelah dimakan ternyata rasanya sangat pahit. Sejak itu Desa Tarik diberi nama Desa Majapahit.
***
Sikap tegas penolakan Sri Kertanegara kepada Mongolia pada 1289 ternyata harus dibayar mahal. Di bawah kepemimpinan panglima perang Ike Mese, Shih Pi dan Gao Xing, sebuah armada tempur berkekuatan dua puluh ribu prajurit dengan menggunakan kurang lebih seribu buah kapal perang berlayar dari Mongolia ke Jawa untuk ‘menghukum’ raja Singosari yang menentangnya. Pada awal 1293 armada itu berlabuh di pelabuhan Tuban dan Hujung Galuh setelah itu bergerak ke selatan melalui jalur darat dan Sungai Brantas menuju Tumapel, ibu kota Singosari. Beberapa hari kemudian pada waktu yang telah ditentukan kedua pasukan perang ini bertemu dan berkubu di suatu daerah yang bernama Canggu.

Ike Mese mendengar kabar bahwa kerajaan Singosari sudah runtuh dan Sri Kertanegara telah tewas sedangkan yang berkuasa di Jawa saat itu adalah Sri Jayakatwang yang telah mengangkat dirinya sebagai raja yang bertahta di istana Daha, ibu kota Kediri. Oleh karena perintah yang diterima adalah menghukum raja Singosari, penerusnya atau siapa pun penguasa saat itu maka ‘eksekusi’ itu akan tetap dilaksanakan.

Dalam perjalanannya mereka ditemui dan diajak bergabung oleh Raden Wijaya untuk bersama-sama meruntuhkan kerajaan Kediri dengan janji Jawa akan segera tunduk, berupeti dan mengakui kedaulatan Mongolia. Perjanjian pun disepakati! Istana Daha luluh lantak. Lebih dari lima ribu prajuritnya tewas. Prabu Sri Jayakatwang dan Ardaraja anaknya, dihukum mati oleh Mongolia di atas kapal yang berlabuh di Hujung Galuh dan lebih dari seratus orang kerabat istana Kediri yang tertangkap ditawan untuk dibawa ke Mongolia.

Belum lagi sempat menikmati janji, tepat pada saat sedang merayakan pesta kemenangan, pasukan Mongolia ini digempur dan diusir pasukan Raden Wijaya hingga tercerai berai dan sebagian yang selamat melarikan diri naik ke atas kapal dan berlayar kembali ke negerinya.
***
Seandainya saja Ike Mese memahami makna kearifan alam Jawa melalui tanda-tandanya barangkali Mongolia tak harus menanggung kekalahan memalukan yang belum pernah terjadi sebelumnya di belahan bumi manapun. Tetapi sayang jerit kedasih terakhir yang memberi peringatan adanya mara bahaya yang melengking di utara Kediri justru terjadi pada saat panglima perang itu telah lelap dalam tidurnya setelah mabuk kekenyangan arak Jawa. Padahal kecurigaan itu sudah mulai dirasakannya beberapa hari sebelumnya. Mengapa setiap kali terdengar suara burung itu selalu diikuti peristiwa besar dengan pertumpahan darah?

Kurangnya kewaskitaan Ike Mese berakibat fatal. Lebih dari tiga ribu prajuritnya tewas dan hilang dalam peristiwa penaklukkan Jawa yang berlangsung selama kurang lebih empat bulan itu. Ike Mese telah menghancurkan impian Kubilai Khan meluaskan jajahannya di belahan selatan. Armada perangnya kembali ke negerinya tanpa mengusung sebongkah kebanggaan kecuali hanya beberapa benda berharga rampasan perang sebagai bukti perjalanannya. Tetapi bukan bukti keberhasilan menaklukkan musuhnya.

Tak lama setelah kegagalannya menaklukkan Jawa, Dinasti Yuan yang dibesarkan Kubilai Khan runtuh. Sementara di bumi selatan, ‘tunas’ yang pernah ditinggalkannya mulai tumbuh dan berkembang dalam waktu singkat menjadi sebuah kerajaan besar yang kuat dan disegani di belahan selatan Benua Asia.

Majapahit!

Pada 12 November 1293 Raden Wijaya dinobatkan menjadi Raja Majapahit yang pertama dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

Dimana-mana Mongolia unggul, tetapi tidak untuk di Nusantara.


Jakarta, April 28, 2009

Dirangkum dari berbagai literatur

Tidak ada komentar