BreakingNews

Pertama Kali Ikut, Seminari Hokeng Langsung Juara Festival Budaya Flores dan Lembata

JURNALTIMUR.COM----Di kawasan timur Indonesia, tepatnya Flores, Nusa Tenggara Timur, anda akan sulit berjumpa dengan bioskop. Mungkin atas faktor itu, dramaturgi menjadi sebuah mata pelajaran tambahan para siswa seminari menengah di pulau Flores. Contohnya di SMA Seminari San Dominggo (Sesado) Hokeng, mulai dari Kelas Persiapan Bawah (Kelas pra kelas I SMA) sampai kelas III SMA, dramaturgi menjadi mata pelajaran tambahan wajib.

Teater Sesado Hokeng yang berjudul "Take Korke Bale"
sedang dipentaskan (foto : RD Sebast)
Lantas karena itu, setiap kali liburan akhir semester, para seminaris berkeliling dari desa ke desa di parokinya masing-masing untuk mementaskan drama. Sehingga pada suatu kesempatan pelajaran dramaturgi, Frater  Bernardus Bala Kerans Pr (yang sekarang menjadi Romo Deken Dekenat Larantuka dan Solor) mengatakan, banyak orang tertarik masuk seminari karena ingin main drama.

Dan akhirnya kesetiaan Sesado menanamkan kemampuan berdramaturgis membuahkan hasil. Beberapa hari lalu, tepatnya  sabtu (01/10/16/ Romo Kepala Sekolah Sesado Hokeng RD Sebastian Uran Bala memposting beberapa foto siswa sesado mengangkat tropi, yang bisa dibaca sebagai tanda bahwa mereka baru memenangkan sebuah perlombaan.

Ketika jurnaltimur.com mengkonfirmasi tentang foto itu, Romo Sebastian mengatakan Sesado meraih juara Festival Budaya Floresta (Flores Lembata).”Sesado baru pertama kali ikut festival Budaya Floresta dan langsung juara,” tutur Romo Kepala Sekolah Sesado Hokeng, RD Sebastian Uran Bala, melalui pesan whatshap pada akhir pecan lalu.

Pentas itu berupa teater yang ditampilkan di Lewoleba, ibukota kabupaten Lembata sehari sebelumnya. “Teater ini menjadi menarik karena gabungan drama, music, tari dan nyanyian,” sambung Romo Sebastian lagi.

Sedangkan di kesempatan terpisah, Romo Sirilus Lela Wutun yang mendamping para pemain teater itu menuturkan bahwa judul teater itu adalah Take Korke Bale (pengatapan rumah adat). Romo Sirilus tidak menyebut judulnya, tetapi menjelaskan makna dari teater itu. “Teater ini menyampaikan pesan bahwa pembuatan rumah adat melibatkan seluruh masyarakat, juga Lera Wulan Tanah Ekan (Matahari Bulan dan Alam Semesta) dalam seremonial di sudut kanan,” ujar RD Sirilus Lela Wutun  Senin 3 Oktober 2016.

Para pemain teater yang mengungkapkan sukacitanya
“Kalau ada kesalahan dalam proses pengerjaan maka akan memakan korban, sehingga butuh serimoni adat untuk pemulihan lalu pengerjaan bisa dilanjutkn sampai selesai,“ ujarnya. Romo Sirilus menambahkan teater itu juga mengkomunikasikan bahwa setelah selesai pengatapan seluruh masyarkat menyatakan kegembiraan lewat pesta dan menari.

Menurut Romo Sirilus, pemain teater itu ada 14 org. Teater tersebut menurut Romo diosesan Larantuka ini, digarap oleh Frater Inno Koten. “Hal yang membuat Sesado juara adalah karen tetap mempertahankn keaslian adat yang nampak dalam bahasa, gerak, musik dan pakaian, meski banyak modifikasi," pungkasnya.

Festival ini mendatangkan tim juri khusus dari Institut Kesenian Yogyakarta. (tom)

Tidak ada komentar