BreakingNews

Pidato Kebudayaan, Premana W. Premadi : “Demokrasi menjadi risiko jika masyarakat belum dapat diandalkan kemampuan bernalar”

JURNALTIMUR.COM,- Dalam masyarakat demokrasi yang secara prinsip rakyat berkuasa, menjadi risiko tinggi jika masyarakatnya belum dapat diandalkan kemampuan bernalarnya. Masalah alam yang mestinya didiskusikan dan dikelola secara rasional malahan menjadi masalah politik yang juga emosional.

Premana W. Premadi 
Hal ini diungkapkan Astrofisikawan Premana W. Premadi  dalam Pidato Kebudayaan yang berjudul ” Menggugah Welas Asih Lewat Pola Pikir Ilmiah”, pada Forum Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (10/11/2016) malam.

Menurut Premana W. Premadi, pengetahuan yang tidak lengkap dan pandangan –pandangan yang bias  membuat penalaran menjadi timpang. 

Dia mempertanyakan, apa yang bisa dilakukan jika dialog yang substansial tidak bisa diadakan karena para pihak memiliki tingkat pengetahuan dan persepsi berbeda tentang kelangsungan hidup bersama?

Dia berpendapat bahwa sebelum terlambat perlu kembali membenahi pendidikan pada akarnya untuk memberdayakan nalar. 

“Bernalar, berakal –sehat, adalah bagian dari kebaikan. Saya menghimbau untuk kita fokuskan energi dan perhatian kita untuk hal yang konstruktif , dan memulai budaya bernalar dari diri sendiri,” katanya.

Menururnya, selain menyiapkan guru untuk menyinambungkan budaya bernalar peserta didik, kedekatan orang muda dengan alam dalam beberapa program juga menginspirasi generasi muda tentang indahnya alam semesta yang membentangkan cakrawala mereka; menjelaskan keterkoneksian manusia dengan bintang secara fisika dan kimia sehingga terungkap asal muasal yang tunggal.

“Jangan kita lupakan common history kita yang panjang yang membuat kita semua bersaudara. Mengenal alam semesta membuka pintu untuk merestorasi harmoni. Manusia hanya punya sesamanya untuk saling bergantung, dan hanya punya Bumi untuk merumahinya. Untuk bertahan, kita sungguh-sungguh perlu saling merawat, tidak ada cara lain,"ujarnya.  

Dia  memperjelas tesisnya bahwa kemampuan menalar, kemampuan memahami hubungan kausal  yang relevan dengan kehidupan  sebagai mahkluk fisis maupun sosial, mendorong terbangunya critical awareness terhadap lingkungan, yang pada gilirannya dapat menggugah rasa welas asih, compassion.

“Apabila pendidikan gagal menciptakan masyarakat yang mayoritas kompeten, maka resikonya adalah lingkaran setan : ketidakkompeten, frustrasi, putus harapan, apatis, umapan balik kepada komunitas, komunitas terpuruk," jelasnya. 

Dikatakannya, di dalam sistem manusia, keanekaragaman terbukti memperkaya peradaban. Kita lihat kota-kota besar di dunia yang tumbuh besar, bertahan, dan juga flourishing serta warganya hidup penuh vigor, adalah kota-kota yang mengakomodasi keanekaragaman. Tetapi kita tahu tentu ini bukan tanpa usaha. Pertukaran “energi baik” antar warga kota, ketaatan pada aturan-aturan yang telah disepakati adalah kunci keberhasilan.

"Di dalam peradaban, kenakeragaman bukan hanya memperkaya, tetapi hadir untuk fungsi yang menurut saya lebih fundamental untuk manusia: yakni sebagai sarana refleksi. Kita lebih mengenal diri kita sendiri dengan bercermin pada tetangga. Kita memahami bumi lebih baik setelah kita mengenali planet-planet lain. Kepemahaman yang membuahan respek untuk saling melindungi," jelasnya. 

Menyinggung soal konflik, dia  menyebutkan dalam situasi konflik, energi masyarakat habis dikobarkan dalam bentuk amarah. Tak banyak yang lalu tersisa untuk hal yang konstruktif,

"Salah satu kandala alami adalah kekalnya energi total. Energi dapat berubah bentuk, tapi jumlahnya tetap," jelasnya.

Sebelum Premana W. Premadi   membawakan pidato, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin  lebih dulu tampil dengan pidato berjudul "Kedewasaan Beragama dan Masalah-Masalah Kemanusiaan Masa Kini" 

Pidato Kebudayaan merupakan agenda tahunan Dewan Kesenian Jakarta yang menghadirkan pembicara terpilih untuk menyegarkan pikiran terhadap isu kehidupan berbangsa. Pidato Kebudayaan pertama kali diadakan pada 1989, menampilkan budayawan Umar Kayam dengan topik “Pembebasan Budaya-Budaya Kita”.

Agenda tahunan tersebut terus berlanjut, tidak hanya menghadirkan sosok yang berasal dari kalangan budaya, namun lintas disiplin.(ben)


Tidak ada komentar