BreakingNews

Simon Hayon, Anton Hadjon dan Flotim Butuh Pemimpin Politik


“...karena kami merasakan apa yang dirasakan masyarakat Flores Timur. Maka kami tidak punya diktat yang tebal untuk menulis susahnya masyarakat. Kami tidak punya buku yang tebal untuk menceritakan tentang Flores Timur. Kami hanya satu lembar kertas untuk lima tahun kami kerjakan untuk membuat perubahan di Flores Timur. Kami hanya butuh bisikan masyarakat Flores Timur dan itu yang harus diselesaikan dalam lima tahun,” ujar Anton Hadjon di Lapangan Lebao-Larantuka, 27 Januari 2017.  

Oleh : Benjamin Tukan 

Mantan Bupati Flores Timur (Flotim) Simon Hayon memang sungguh fenomenal. Dia selalu dikenal di masyarakat bawah dengan kesederhanaan dan sapaannya. Setelah lepas dari Bupati, ia pun meninggalkan tanda tanya bagi sebagian orang, mengapa gerangan ia yang kadang membuat pernyataan kontroversial  itu dicintai rakyatnya?


Simon Hayon begitu dikenang, ditunggu-tunggu kehadirannya, walau saat  setiap orang membicarakan pembangunan Flotim selalu mengacu pada bupati sebelumnya yakni Felix Fernandez lepas dari kekurangan dan kelebihannya.


Anton Hadjon
Simon Hayon, politisi NTT yang cukup terkenal pada masanya. Berpenampilan sederhana dan dikenang sebagai orator ulung. Ia sering melakukan kunjungan dan setiap ia berkunjung ke kampung-kampung ia selalu menyapa setiap orang, tidak seperti halnya sapaan seorang pejabat politik umumnya. Dalam pertemuan yang singkat, dengan bahasa yang singkat ia meninggalkan kenangan bagi masyarakat kampung hingga saat ini.


Soal kunjungan, jauh sebelum ia menyatakan hendak ikut dalam pilkada Flotim 2005, ia sudah berkeliling ke desa-desa. Banyak yang tidak tahu apa yang dikerjakan dalam kunjungan ini, tetapi yang tahu pun akhirnya tidak mengerti apa sesungguhnya yang diperbuatnya.


Simon Hayon terkenal sebagai politisi yang mulai karir politik  dari bawah hingga ke puncak karir politik lokal yang tangguh. Ia juga dikenal sebagai politisi “tahan banting”, bertahan di tengah iklim politik yang tak kondusif dan tidak tergoda sedikitpun untuk melabuhkan jangkar.


Berperwakan tenang, necis, dan sedikit parlente, karakter politisi yang tenang dan berpengalaman diarungi saat ia menjadi nahkoda Flotim, menjadi Bupati Flotim. Ia meninggalkan kenangan, sambil menyisahkan ruang ketidak-mengertian orang padanya.


Setelah tidak menjadi Bupati, ia selalu ditunggu untuk datang ke tengah masyarakat. Ia  pemimpin politik, bukan teknokrat, apalagi adminstratrator.


Anton Hadjon


Anton Hadjon salah satu kandidat Bupati  Flores Timur saat ini merupakan pemimpin partai PDI Perjuangan kabupaten Flores Timur. Ia hadir mencalonkan diri setelah lima tahun Simon Hayon meninggalkan gelanggang politik Flores Timur.


Fakta yang tak terbantahkan adalah Anton Hadjon mengawali karir politik juga dari bawah. Ia mulai dengan menjadi ketua ranting hingga menduduki ketua partai di tingkat kabupaten. Ia menduduki kursi DPRD hasil pemilu dan menduduki jabatan wakil ketua DPRD dua periode.


Lima tahun yang lalu ia mulai dilirik untuk menjadi calon wakil bupati, tapi dia menolak. Ia pun ditawarkan untuk menjadi calon bupati tapi saat itu ia tolak. Ia masih perlu mendapatkan pengalaman pengabdian sebagai wakil rakyat.


Bernampilan apa adanya, bicara juga apa adanya. Rileks saat  bicara dalam suasana canda. Keseriusan nampak saat ia mendengar lawan bicaranya berbicara. Tenang menjelaskan pikiran-pikirannya. Ia rajin mengunjungi kampung-kampung dalam dapilnya dan mengunjungi kampung-kampung di luar dapilnya baik sebagai anggota DPRD maupun sebagai ketua partai.


Bicara dengan Anton Hadjon, mengenai tugasnya sebagai wakil rakyat, ataupun pembangunan Flores Timur, ia sangat kuasai. Pengenalan warga di dapailnya terhadap dirinya sudah teruji. Ujian itu dapat terlihat saat mendulang suara pada periode kedua Pemilu 2014 lalu. Ia tidak terlempar, tapi justru diperlapang jalannya untuk kembali menduduki kursi wakil rakyat.


Dalam pidato politik pada rapat umum di lapangan Lebao 27 Januari 2017, siapa Anton Hadjon, dapat dilihat dari ucapan-ucapan. Ia mulai berbicara dengan menyebutkan tentang masyarakat, dan tentang kunjungan-kunjungannya. Ia bertemu dengan seluruh masyarakat dan sungguh mengenal masyarakat.


“Karena saya dan pak Agus, hidup kami di Flores Timur, maka kami tidak sekadar melihat persoalan masyarakat. Kami tidak sekedar mendengar ceritra-ceritra tentang susahnya masyarakat Flores Timur. Tapi kami juga ikut merasakan, rasa sakitnya orang Flores Timur. Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah merasakan sakitnya rasa orang Flores Timur, mau menjadi Bupati dan wakil bupati?” tanya Anton saat membawakan orasi politik.  


Betapa pentingnya menjelaskan arti mendengar daripada didengar, Anton Hadjon mengatakan, “...karena kami merasakan apa yang dirasakan masyarakat Flores Timur. Maka kami tidak punya diktat yang tebal untuk menulis susahnya masyarakat. Kami tidak punya buku yang tebal untuk menceritakan tentang Flores Timur. Kami hanya punya satu lembar kertas untuk lima tahun kami kerjakan untuk membuat perubahan di Flores Timur. Kami hanya butuh bisikan masyarakat Flores Timur dan itu yang harus diselesaikan dalam lima tahun,” ujarnya.  


Sebagai politisi yang mengenal dekat masyarakat  dan masyarakat mengenalnya, tepuk tangan tak sekedar kagum tapi memberikan rasa hormat pada cinta dan pengabdian seorang anak muda yang melangkah maju ke kursi nomor satu Flotim.


Pemimpin Politik


Begitu banyak alasan dan cara saat orang menyatakan niatnya untuk menjadi bupati dan wakil bupati Flores Timur. Niat itupun bisa datang dari bacaan dan pengenalan tentang Flores Timur kemarin, hari ini dan esok.Ketepatan membaca akan memperlapang jalan menuju tujuan.


Simon Hayon dan Anton Hadjon tentu secara prinsip dan pandangan tentang masyarakat keduanya berbeda. Dalam hal zaman yang membetuk pengalaman politik pun berbeda. Simon Hayon dalam mengawali karir politik dipengaruhi oleh orde baru yang tidak menguntungkan partainya, sementara Anton Hadjon tumbuh dalam masa reformasi yang cendrung menguntungkan partainya.


Namun mengamati perjalanan dua figur yang hadir dalam masa yang berbeda ini, rupanya perlu dilihat apa yang membuat masyarakat tertarik atas kehadiran mereka. Apakah pilihan menjadi pemimpin politik telah disadari menjadi jawaban akan kebutuhan kepemimpinan untuk Flores Timur? 


Pilihan untuk menjadi pemimpin politik yang ditempah dalam suasana politik menjadikan mereka begitu leluasa bersama masyarakat. Dengan berbagai karakater dan cara, mereka menyumbakan sebuah konsep kepemimpinan politik yang berbeda dengan kepemimpinan  birokrat, staf ahli di pemerintahan, atau pun pemimpin yayasan dan lembaga,


Dalam banyak cara, kepemimpinan politik model ini selalu tidak berminat pada  pembuatan program-program ala GBHN yang normatif, dan birokrasi -administrasi.  Walaupun demikian, mereka tetap mendapat sambutan yang luar biasa. 


Masyarakat meminati pemimpin politik lebih  karena pendekatan yang memperlakukan warga sebagai sesama anggota. Diminati juga karena   tidak terjabak dalam cara berpikir  linear dan selalu memungkinkan adanya tindakan penuh kreativitas. Mereka punya cita-cita tetapi selalu ada kewaspadaan bahwa visi dan misi yang terumuskan bisa terjebak dalam suatu yang abstrak dan mengambang .Mereka menolak hal yang tidak realistis karena bisa jatuh pada  hal yang normatif semata.


Hal yang menonjol dalam kepemimpinan politik adalah pada cara pendekatan dengan  mau mendengar bisikan rakyat, turun langsung ke desa-desa dan kampung-kampung menjadikan masyarakat bersimpati sekaligus menjadi pilihan sadar  masyarakat untuk bersama mereka. Kunjungan-kunjungan yang dilakukan para pemimpin politik, tidak bisa disamakan dan diperbandingkan dengan kunjungan-kunjungan lain yang mungkin saja baru mendadak terjadi dalam satu dua bulan.


Kunjungan pemimpin politik dilandasi sebuah pemahaman akan kesetaraan sebuah relasi.  Apalagi dalam konteks masyarakat Lamaholot yang memiliki otonomi yang kuat pada lewo dan kampung, hubungan negara dan warga tetap dianggap suatu hubungan yang setara. Hadirnya pemimpin politik entah mewakili negara atau warga, tetap dibaca dalam hubungan kesetaraan itu. 


Dalam hubungan ini warga tidak pernah mempersoalkan dan tidak mengenal pemimpin yang pintar, tapi pemimpin yang benar. Orang pintar pandai membuat konsep, tapi tidak pandai membuat rakyat sejahtera. Hal yang benar adalah pemimpin yang benar pasti mendengarkan aspirasi dan benar merealisasikannya. 


Dalam birokrasi, pemimimpin yang dekat dengan rakyak seperti ini sangat dibutuhkan karena roda birokrasi bisa berjalan dengan ada kepemimpinan politik yang hadir menjembatani warga dan negara. Dalam penyelesaian konflik-konflik di masyarakat pun, kemamampuan dialog yang dipunyai pemimpin dirasakan dapat menemukan solusi dan mencapai kesepakatan-kesepakatan. Jalan dialog merupakan jalan yang terbaik yang dipilih para pemimpin politik.


Saat ini bergaung dimana-mana tentang perlunya kempimpinan yang tidak muluk mengumbar janji. Pemimpin selalu diharapkan dapat mau turun ke masyarakat melihat orang susah, melihat jembatan yang rusak, jalan yang belum diaspal,  dan bersama masyarakat dalam hidup kesehariannya. Sebaliknya pemimpin  yang hanya mau didengar seringkali berucap sinis, menggurui dan emosional. Ia datang ke masyarakat agar, masyarakat mendengar omongannya. 


Pemimpin politik selalu menyadari bahwa pilkada bukan perebutan kekuasaan, tapi sebuah jalan negosiasi dengan rakyat. Keberhasilan pemimpin politik tidak terletak pada realitas dan kesan-kesan positif yang dibangun, melainkan pada usaha-usaha yang benar dan menciptakan negosiasi yang kritis yang memungkinkan rakyat ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Ketidakmampuan membangun relasi antara warga dan negara menyebabkan rakyat dan pemerintah menjadi etinitas berbeda dan sulit dipahami satu dengan yang lain. Dalam negosiasi yang dilakukan inilah,  Pemilu dan politik dijalankan tak sekedar soal etis tapi juga  estetis.


Belajar dari penerimaan warga terhadap Simon Hayon pada waktu itu, juga penerimaan warga terhadap Anton Hadjon dalam pilkada kali ini, rupanya perlu mulai ditegaskan akan kebutuhan masyarakat pada hadirnya pemimpin politik. Otonomi warga sepertinya dapat dijelaskan berangkat dari sini. Di luar itu memang sulit terbaca secara lebih baik, apalagi hanya mengedepankan niat tulus untuk mengabdi semata.  Selamat datang pemimpin politik.  


Tidak ada komentar