BreakingNews

Pilgub NTT 2018, Potensi Bakal Calon Melimpah


JURNALTIMUR.COM,- Jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 2018, mulai dari sekarang sudah ramai bermunculan nama bakal calon yang dinilai pantas untuk duduk di kursi gubernur dan wakil gubernur. 


Menariknya, di tengah melimpahnya bakal calon, para bakal calon harus berhadapan dengan sedikitnya peluang pencalonan dari koalisi partai politik yang ada. 


Sementara  dari nama-nama yang disebut ini,  belum satu pun yang secara pasti akan memilih jalur perseorangan. Tarik menarik kepentingan di tubuh partai diperkirakan akan ramai jelang pilgub ini.


Nama para bakal calon yang sering disebut itu antara lain,  Benny. K. Harman, Ibrahim Agustius Medah, Esthon L Foenay-Kris Rotok, Daniel Tagu Dedo, Mel Adoe dan Benny Litelnoni.


Selain nama juga disebutkan nama-nama lain seperti  Raymundus Sau Fernandez, Fransiskus Honing Sanny, Hyronimus Fernandes, Ayub Titu Eki, Heri Wadu, Melki Laka Lena, Abraham P Liyanto, Gideon Mbilijora, dan Brigjen TNI Yan Piter Ate. 

Benny K. Harman (Tengah) salah satu Bakal Calon Gubernur NTT 


Alexander Take Ofong, Awang Notoprawiro, Anton Doni Diheng, Kristo Blasi, Anwar Pua Geno, Umbu Sapi Pateduk, Josef Nae Soi,  Yosef Tote, dan Lucia Adinda Lebu Raya juga disebut. Nama Mikael Umbu Zasa dan Noviyanto Umbu Pati SA Lende lebih memilih dicalonkan sebagai wakil. Belakangan mulai muncul   Aloysius Lele Madja, Benediktus Bosu dan Ignas Iryanto. 


Sudah banyak nama yang muncul, namun hal itu pun masih terbuka kemungkinan akan bertambah dalam beberapa waktu ke depan.  Semua dinilai pantas, apalagi faktor patahana Gubernur Frans Lebu Raya yang tidak ikut pencalonan karena telah dua periode, dianggap  Pilgub NTT nantinya ajang kompeteisi yang begitu terbuka.


Tapi untuk menuju ke persaingan yang sesungguhnya, para bakal calon tidak mudah melewati pintu partai. Untuk bisa diusung partai, minimal harus mengantongi 13 kursi di DPRD Provinsi. Kenyataannya, tak ada satu pun partai yang memenuhi syarat itu.


Peta Buta Politik NTT Jelang Pilgub 


Munculnya banyak calon, memang menggembirakan. Kompetisi akan berjalan dengan tensi yang tinggi namun tetap berangkat pada pertimbangan rasional akan masa depan NTT. Tapi yang justru menjadi pertanyaan melalui partai mana saja nama calon ini diusung? 


Peta buta  itulah yang terjadi. Partai mana mendukung siapa belum jelas. Bahkan dalam satu partai pun bermunculan banyak bakal calon. 

Ibrahim Medah, salah satu Bakal Calon Gubernur 

Jika dilihat dari syarat pencalonan dari partai maka satu pasang calon gubernur dan wakil gubernur harus diusung sekurang-kurangnya 13 kursi di DPR. Kenyataan, jumlah kursi di DPR Provinsi, Partai Golkar 11 kursi, PDI Perjuangan 10 kursi, Partai Gerindra 8 kursi, Partai NasDem 8 kursi, Partai Demokrat 8 kursi, Partai Hanura 5 kursi, PKB 5 kursi, PAN 4 kursi, Partai Keadilan Sejahtera 2 kursi, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia 2 kursi.


Koalisi partai adalah jalan yang dipilih. Itupun hasilnya, tak banyak. Tiga empat pasangan calon saja yang bisa lolos.  Maka sebelum Pilgub yang diikuti rakyat ada "pemilu" di internal partai minimal diantara pengurus partai dan para aktor penting pengambil keputusan dalam partai. 


Survey dan fit and propertest menjadi lebih tepat disebut sebagai senjata partai menggugurkan bakal calon, dari pada alat partai memilih bakal calon. Justru yang terpenting kompromi-kompromi bakal calon dan partai.  Namun lagi-lagi peta buta politik NTT dirasakan sebagai alat penting meramaikan Pilgub. Dibiarkan tetap tidak jelas, sampai waktu-waktu terakhir jelang pendaftaran di KPU.

Di tengah keterbatasan pencalonan dari partai politik, para aktor dan penggembira politik seakan asyik mengutak-atik kemungkinan siapa berpasangan dengan siapa sekedar meyakinkan bakal calon untuk sebuah "permainan politik" yang panjang. Ataupun mempengaruhi kompromi-kompromi di jantung terdalam partai politik termasuk mempengaruhi survei, 


 Di tengah utak atik permainan,  muncul juga wacana baru  tentang poros baru. Partai-partai yang memiliki kursi-kursi dalam jumlah kecil, mencoba memilih jalan baru yakni konsolidasi untuk melahirkan satu pasangan.  


Siapa calon dari poros baru ? Kriteria pun tak tanggung-tanggung. Calon itu harus punya dedikasi dan kemampuan memimpin NTT dengan visi dan program kerja yang bagus.


Di luar pembicaraan yang menyangkut partai politik, siapa gubernur yang menjadi dambaan masyarakat juga sudah bisa terbaca. Dari usungan-usungan calon, selalu yang digambarkan figur dambaan adalah orang-orang sederhana yang mewakili tipikal orang NTT yang apa adanya. 


Selain sederhana, figur yang dinominasi adalah figur yang selalu berpihak pada orang kecil dan tersisih. Ia pun harus memiliki ide, visi dan program yang cemerlang. Memiliki reputasi tingkat nasional agar omongannya didengar, dan mempunyai jaringan luas yang bisa memperkenalkan kebutuhan NTT ke seantero dunia. Calon pun harus memiliki kepribadian yang baik, disukai pemilih, 


Semua kriteria ini berpulang kepada Partai Politik yang akan mengusung pasangan. Apapun kompromi, jangan sampai melupakan bahwa pilkada adalah sarana rakyat mengadakan perubahan, bukan sarana elit untuk mendapatkan keuntungan.


Calon perseorangan sebenarnya menjadi alternatif untuk mengontrol dominasi partai dalam menentukan kandidat, tapi untuk  maju di Pilgub NTT 2018 kandidat perseorangan harus bisa mengumpulkan 270.736 dukungan atau KTP. Dukungan ini harus pula menyebar secara merata di 12 kabupaten/kota dari total 22 kabupaten/kota di NTT.


Masalah Kita Bersama 


Di luar pembicaraan tentang kandidat dan partai politik yang akan mengusung, kehadiran calon-calon juga disertai dengan agenda perubahan yang hendak dibuat. Tentu saja, percuma membicarakan akan duduk sebagai gubernur, tapi tidak tahu apa yang akan dikerjakan. 


Mengikuti wacana Pilgub yang kini sedang ramainya, mulai terdengar omongan-omongan yang menyasar pada masalah NTT. Masalah-masalah itu seputar infranstuktur, sumber daya manusia, lapangan kerja, human trafficking dan  rendahnya pendapatan daerah. 


Honing Sanny, salah satu Bakal Calon Gubernur NTT 
Ada juga muncul usulan untuk menyiapkan regulator dari hulu hingga hilir, membuka akses keadilan bagi kelompok miskin, moratorium perektrutan dan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI), hingga ketegasan dalam mengatur birokrasi agar jangan tergoda korupsi dan pemborosan anggaran. 


NTT selalu dinilai punya sejuta potensi pertanian, peternakan serta perikanan dan kelautan.tapi terkesan salah urus yang menyebabkan kesejahteraan rakyat tertunda. Masih adanya busung lapar atau gisi buruk dan persoalan lainnya, Ada yang memberi kesan NTT tidak berdaya, masyarakat ditimpa rasa pesimisme,  


Sepertinya, dari  bakal calon yang ada, beberapa diantaranya  sudah  dapat disebut memenuhi kriteria  yang diinginkan sekaligus menjawab  kebutuhan masyarakat NTT akan seorang pemimpin. Namun, namanya juga politik, tak seru kalau tidak dibikin ramai. Pertentangan antara figur tua dan muda atau senior dan yunior masih mewarnai kriteria tambahan. 


Kelompok senior seringkali memojokan kelompok yunior dengan alasan tidak punya pengalaman, asal bicara tidak banyak berpikir, bahkan terang-terangan mengatakan bahwa tidak memilki kapasitas dan kemampuan menjadi pemimpin. 


Kelompok yunior tak kehilangan akal. Yang senior dianggap sudah tidak punya tempat lagi karena NTT sekarang sudah berubah jauh mengikuti perkembangan baru yang terjadi di luar. Wilayah provinsi yang dikelilingi laut, juga bergunung-gunung akan sangat berbahaya bagi para senior bila menjalani. Kelelahan fisik tentu saja akan mempengaruhi kecepatan dalam menjawabi kebutuhan rakyat. 


Entah lah. Persaingan ke kursi panas gubernur NTT baru mulai. Berlimpahnya bakal calon mudah-mudahan membawa optimisme bahwa NTT tidak sedikitpun kekurangan pemimpin. "Ga ada lo, ga rame". "Engkau terada, sepi le".  (Benjamin Tukan)

Tidak ada komentar