BreakingNews

Titus Pekei: "Setiap HUT Anak-Anak Papua adalah Perayaan Noken"

JURNALTIMUR.COM Apalah artinya merayakan hari kelahiran untuk seorang pemuda Papua? Sementara perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) kini sepertinya sudah menjadi sebuah kewajiban bagi siapa saja untuk merayakan. Atau sekurang-kurangnya setiap datang hari kelahiran selalu diterima ucapan selamat dari sanak saudara teman dan kenalan.


Kemarin, Selasa 19 September 2017, budayawan Papua, sekaligus Penggiat Noken Titus Pekei merayakan HUT-nya yang ke 42. Ia lahir di Wakeitei, kampung kecil tepi sungai Tigi, Deiyai, Papua, 19 September 1975.  


Bukan Titus Pekei kalau tidak menghubungi setiap peristiwa dengan noken yang menjadi perhatian. Ia bahkan memaknai  setiap perayaan kelahiran anak-anak Papua juga merupakan salah satu bentuk perayaan hari Noken. Alasan? Di setiap kelahiran anak-anak Papua, bayi mungil selalu dibungkus dengan Noken.


Titus Pekei, kepada JurnalTimur, Rabu (20/9/2017) mengatakan, sebagaimana dirinya merayakan Hari Ulang Tahun, demikian juga masyarakat Papua umumnya yang merayakan hari kelahiran, selalu yang diingat adalah Noken. "Sepertinya setiap HUT anak-anak Papua adalah perayaan Noken," kata Titus. 


Kata Titus Pekei, sebelum seorang anak bisa berjalan dan berlari, hari-hari kehidupan anak itu selalu berada dalam noken. Dengan Noken bayi mungil mendapatkan kehangatan dan merasa nyaman saat dibawa oleh orangtua. 


Titus menuturkan, dari merajut kemudian saat Noken digunakan begitu banyak nilai yang diperoleh masyarakat Papua. "Ini adalah kearifan budaya Papuani yang menggambarkan nilai kemandirian, kekeluargaan dan persatuan masyarakat Noken dari masa ke masa," ujar Titus. 


Titus menjelaskan, Noken telah secara turun temurun menjadi identitas budaya luhur yang melekat pada unsur kebudayaan lokal Papua. "Dengan pengakuan dari UNESCO semakin memantapkan  Noken sebagai warisan budaya hidup, dan wadah pemersatu dari segala keragaman budaya dalam komunitas suku bangsa yang sekurang-kurangnya 250-an lebih suku bangsa di Tanah Papua," jelasnya.


Menurut Titus, Noken mengatur irama hidup saat makan dan kerja, dan menyimpan semua yang baik untuk hidup. 


Kecintaan pada Noken, membuat lelaki yang bernama lengkap Titus Christoforus Pekei ini beberapa tahun silam mendaftarkan Noken Papua sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Perjalanan panjang dan berliku-liku ia lewati untuk mendalami ilmu tentang noken.


Sebelum dan sesudah pengakuan UNESCO, sudah hampir 20-an tahun, Titus  meneliti  noken sebagai warisan budaya. Ia mendatangi hampir setiap kota dan kampung di Papua demi meneliti tentang Noken. 


Nama Titus memang tidak asing lagi  sebagai pencinta Noken. Ia bahkan dijuluki "Sang Penggali Noken",  lantaran kerja budaya yang dilakoninya,termasuk mempublikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam noken, telah menjadi pintu masuk untuk mendalami hal ikwaltentang Noken. 


Melalui buku “Cermin Noken Papua”, ia menjelaskan tentang Noken. Buku itu sudah menjadi “buku wajib” untuk dibaca sebagai permulaan dalam mengenal halikhwal tentang Noken. Artikel tentang Noken tersebar di berbagai buku dan media. 


Titus Pekei (Sumber Foto Jubi)

Mengenai hari ulang tahunnnya kali ini, Titus mengatakan awal ia memang tahu akan berulang tahun, tapi tidak sempat terpikir akan banyak mendapatkan ucapan selamat dari teman, saudara dan kenalannya. Bahkan ada yang tidak ia belum mengenal pun,  memberi ucapan selamat.


“Sebelum hari Selasa atau sebelum Hari Ulang Tahun, di laman Facebooknya sudah banyak teman yang mengucapkan selamat Ulang Tahun. Di hari ulang tahun lebih banyak lagi. Bahkan tidak saja dari facebook banyak yang mengirim ucapan selamat melalui sms ke handphone,” kata Titus.


Walau melalui facebook, sms dan telpon, kata Titus, perayaan HUTnya kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau dua tiga tahun sebelumnya, Titus merayakan HUT nya di Jakarta, Jogja atau pun Bandung, tapi tahun ini ia baru merasakan Ulang Tahun  di Papua sebagaimana masa kecil dan masa sekolah. 


Walau saat ini Titus berada di  Papua tempat asalnya, kesibukan mendatangi kelompok-kelompok Mama-Mama Noken, membuatnya jauh dari keramaian berkumpul dengan teman-teman. Apalagi saat ini ia sedang menyusun buku yang berhubungan dengan perayaan ulang tahun Noken Desember mendatang. 


Titus masih setia berkarya, bahkan apa yang sedang dikerjakan saat ini, memberi harapan akan muncul karya-karya baru dari seorang Titus Pekei. Dari pemahaman tentang Noken, ia sepertinya sangat menguasai budaya Papua. Di luar perhatian pada Noken, banyak juga karyanya yang menyangkut budaya Papua.


Lulusan Pascasarjana, Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia,telah melahirkan sejumlah buku diantaranya, "Manusia Mee Di Papua, Proteksi Kondisi Masa Lalu, Sekarang dan Masa Depan Berbasiskan Pedoman Hidup", Galang Press, Yogjakarta, 2008; "Himpunan Cerita Rakyat Suku Bangsa Mee Di Papua", 2007;  "Mengenal Nilai-Nilai Budaya Suku Mee Melalui Cerita Rakyat", 2009; Penegakan Hukum Lingkungan Hidup, 2009;  "Pengaturan Rakyat Miskin Indonesia Menjadi Aman, Adil, dan Sejahtera", 2009; "Cermin Noken Papua, Perspektif Kearifan Mata Budaya Papuani", September 2011; Mengenal Noken Papua, Perspektif Keabadian Noken Dari Masa Ke Masa"; "Gus Dur Guru dan Masa Depan Papua", PT. Sinar Harapan, 2013 dan "Sang Penggali Noken" yang merupakan kumpulan tulisannya.


Titus pernah bekerja di Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta & PN Jakarta Selatan (status Magang, 2001/2002);  Staf Penegahan Hukum, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2003 sampai 2004; Anggota Tim independen Penilai Pengelolaan Instalasi Pembuangan Air Limbah – IPAL (AMDAL), Jakarta Timur, KLH, Desember 2003-2004 dan beberapa daerah di Indonesia; Anggota Tim Penyusun Rancangan Peraturan Pemerintah Pengaduan Masalah Lingkungan Hidup, Hotel Acacia, Jakarta 2004;  Staf Pelaksana Tugas, di Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Hidup, Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, (PPKTI kini PDT), 2004 sampai 2005/06;  Peneliti Warisan Budaya Takbenda “Noken Papua”, sejak 2008 di Lembaga Ekologi Papua; Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dan Parawisata, Republik Indonesia, 2010/2011 dan akhirnya Noken ditetapkan UNESCO di Paris, tanggal 4 Desember 2012. 


Pengalaman penelitian dan penulisan karya ilmiah diantarnya,  Upaya Pemberdayaan Masyarakat Marginal Kota, Studi Perlindungan Kekerasan Bagi PSK di lokalisasi Jogjakarta, Surakarta dan Semaraang - Jateng, 1999 ;  Lemahnya Penegakan Hukum Lingkungan Terhadap Kejahatan Kamuflase Hijau oleh Perusahan Transnasional di Indonesia, (Studi Kasus PT. Freeport Indonesia, Yogjakarta, 2002, (Skripsi); Konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan Hidup yang Berkelanjutan dalam Percepatan Pembangunan Se-Kawasan Timur Indonesia” PPKTI 2004 – 2005 (program kerja PPKTI);  Evaluasi Aspek Perdata Penegakan Hukum Lingkungan, Studi Kasus Perusahan Newmon Minahasa Raya (PT.NMR), Provinsi Sulawesi Utara, Jakarta 2006, (Thesis); Penegakan Hukum Lingkungan antara Konsep, Harapan dan Tantangan, Asisten Deputi Penegakan Hukum Lingkungan (PHL), Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Materi pelatihan Aparat PHL Se-Indonesia, Jakarta 2003; Penegakan Hukum Terpadu antara Harapan dan Kenyataan, Studi Kasus Penegakan Hukum Lingkungan - Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau, 2005; Masyarakat Adat Papua Memasuki Babak Modernisasi & Globalisasi (Suatu Kajian Analisis Otsus Papua dalam Perkembangan Masyarakat Dewasa ini), Materi Seminar Mahasiswa Papua, Se-Jawa- Bali, Semarang 28 Desember 2008;  Pendidikan Itu Cemin Diri, Hindari Pendidikan Memiskinkan, Materi Makrab Permanab Kota Bandung, Lembang 24 - 25 Oktober 2009;  Penelitian NOKEN PAPUA secara independent dimulai 2008 dan Tim Puslitbang dimulai, Februari 2011 di seluruh Provinsi Papua dan Papua Barat;dan berbagai penelitian ekologi lainnya 


Selamat Ulang Tahun Titus, Karyamu selalu ditunggu. (Benjamin Tukan)



Tidak ada komentar