BreakingNews

Buku " Pergulatan Pemikiran Dr Jan Riberu" Diluncurkan

Dr. Jan Riberu dan Dr. Cosmas Batubara (Foto : Ben/JunalTimur

JURNALTIMUR.COM,- Buku Pergulatan Pemikiran Dr. Jan Riberu: Pendidikan, Relasi Agama-Negara, dan Pancasila diluncurkan, di Jakarta, Sabtu (27/01/2018).


Acara peluncuran yang disertai Seminar Pendidikan mengahadirkan pembicara Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Dr. Yudi Latif, dan Direktur Eksekutif PPM Manajemen Bramantyo Djohanputro, Ph.d, Sementara Pembicara Kunci Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir yang diwakili Staf Ahli Paulina Pane.


Hadir pada acara peluncuran dan seminar ini sekaligus penanggap diantaranya, Mantan Menteri Dr. Cosmas Batubara, Peneliti Sosial Daniel Dhakidae, dan Sosiolog  Ignas Kleden.


Pidato Kunci Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir yang dibacakan Prof. Paulina Pane menyebutkan kehadiran buku Pergulatan Pemikiran Dr. J. Riberu: Pendidikan, Relasi Agama-Negara, dan Pancasila memberikan secercah harapan bahwa pendidikan Indonesia masih memiliki orang-orang besar, antara lain Dr. Jan Riberu-Putra NTT, seorang ahli pendidikan di Indonesia yang sudah bergulat mendirikan institusi pendidikan katolik di tanah air, serta berkontribusi melalui beragam pemikirannya untuk membenahi pendidikan di Indonesia dari masa ke masa.

Prof. Paulina Pane 


" Pemikiran yang disampaikan oleh Dr, Jan Riberu, sebagaimana disampaikan dalam bukunya, menjelaskan bahwa pendidikan di Indonesia merupakan penciptaan identitas bangsa yang didasarkan pada falsafah hidup bangsa, yaitu Pancasila, dan dibingkai dalam konteks multikulturalisme sebagai perwujudan keragaman Indonesia," kata Menteri Nasir.


Bicara lebih jauh tentang pendidikan di Indonesia saat ini, menurut Menristek Dikti, pendidikan tinggi di Indonesia dihadapkan pada revolusi industri 4.0 dengan tiga tantangan utama yakni perubahan demografi, perkembangan teknologi dan tantangan internal.


Perubahan demografi, dunia pendidikan Indonesia dihadapkan pada kesenjangan antara mahasiswa dan dosen. Rata-Rata dosen berasal dari generasi tradisional, baby boomer, atau generasi X, yang berusia mulai atau lebih dari 40 tahun yang mengalami migrasi dari teknologi analog ke teknologi digital. Sementara mahasiswa berasal dari generasi Y atau generasi Z yang lahir di era digital.


Perbedaan generasi ini menyebabkan terjadinya kesenjangan karena masing-masing generasi memiliki karakter, apresiasi, dan visi serta tingkat kemelekan teknologi yang berbeda.


Pada situasi ini diperlukan peralihan paradigma kreatif, inovatif, melek teknologi dan mampu membelajarkan siswa sesuai karakternya.


Pada tantangan dirupsi teknologi menginvansi  berbagai kenyamanan serta berkomunikasi dengan robot sudah menjadi kehidupan sehari-hari. Pada situasi ini diperlukan pemikir-pemikir pendidikan strategis yang dapat melihat bagaimana pendidikan tinggi Indonesia dirancang untuk masa depan bangsa. Mempersiapkan lulusan yang visioner untuk menjadi pemmpin masa depan.



Dion Pare memandu jalannya diskusi dengan pembicara  Dr.Yudi Latif  dan  Bramantyo Djohanputro, Ph.d
Sementara tantangan internal adalah beragam peristiwa yang mengancam kesatuan dan persatuan NKRI serta mengancam tegaknya Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa. Gerakan radikal dan terorisme, bahaya narkoba, isu LGBT, kesenjangan Ekonomi, pengangguran terdidik, kekerasan dan pelecehan merupakan isu yang nyata dan perlu ditangani segera,


"Ide yang paling penting dalam buku ini adalah pemahaman tentang negara dan hubungannya dengan agama serta Pancasila di bumi Indonesia hanya bisa diperoleh melalui proses pendidikan di dalam maupun di luar kampus," kata Menristek Dikti.


Yudi Latif dalam paparannnya memetakan lima persoalan penting yang merupakan sari pati dari pemikiran J Riberu dan juga menjadi agenda ke depan, diantarannya, pemahaman Pancasila, inklusi sosial, keadilan sosial, pelembagaan Pancasila dan keteladanan Pancasila.


Buku Pergulatan Pemikiran Dr. Jan Riberu terdiri dari lima bagian diantaranya, Pedagog Unggul dari Kaki Gunung Ebulobi;  Sistem Pendidikan, Politik kebijakan, kurikulum dan mutu pendidikan;  Relasi Agama-Negara dan Pancasila; Era Globalisasi, Mutu SDM dan jati Diri Bangsa; dan Pendidikan Kleuarga dan Permasalahan Remaja.



Dr. Jan Riberu lahir di Nunukae, Nagekeo, Flores NTT 27 Juni 1931. Meraih gelar Ph.D dari Universitas Salesiana. Pernah mengajar di Sekolah Tinggi Ledalero, IKIP Malang Cabang Ende, Di Jakarta menjalani peran penting di bidang pendidikan, organisasi keagamaan Katolik, dan juga politik.


Ia pernah menjadi Rektor Atma Jaya, mengajar di sejumlah perguruan tinggi termasuk Universitas Indonesia. Beberapa kali dipercayakan menjadi ketua beberapa lembaga di lingkungan Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI),, dan Anggota DPR/MPR 1987-1997.


Selain menulis artikel dan buku bertemakan pendidikan dan keluarga, ia juga kerap diundang sebagai pembicara  dalam dan luar negeri untuk tema-tema seputar pendidikan dan keluarga.


Penulis : Benjamin Tukan  



1 komentar:

  1. Semoga semakin banyak anak-anak muda, tokoh agama, tokoh politik, para pendidik, dan para pemimpin bangsa Indonesia yang membaca buku Pak Jan Riberu. Pemikiran Beliau tentang Pedagog Unggul dari Kaki Gunung Ebulobo (bukan Ebulebi. Sebagai salah seorang yang juga dilahirkan dan tinggal di kaki Gunung ini, saya memahami bahwa secara etimologis lokal, kata EBU bermakna sebagai Kakek/Nenek/Ompung; LOBO bermakna sebagai gunung/pucuk/puncak tertinggi), yang diangkat dari Local Wisdom orang-orang yang tinggal di sekitar kaki Gunung Ebulobo, semakin membuka dan memperkaya horison kependidikan para Pendidik di Indonesia.

    BalasHapus