BreakingNews

Wisata Labuan Bajo, "Pesona Warloka, yang Tak Banyak Diketahui"

Desa Warloka mempunyai riwayat masa dulu dan kini pun masih menyimpan kisah ‘misteri dan juga pesona’.  Warloka terletak di lepas pantai Selatan Labuan Bajo. 


Dari Manggarai Dalam Angka, BPS (Badan Pusat Statistik Kabupaten Manggarai), hlm. 28 mencatat rumah tangga desa Warloka berjumlah 266 Kepala Keluarga (KK). Total penduduk adalah 1.271 jiwa (631 laki-laki dan 640 perempuan). 


Ada sebuah Sekolah Dasar Inpres (SDI) yang rawan karena binatang purba Komodo (Varanus Komodoensis) yang bisa saja dapat masuk dan keluar kampung Warloka untuk mencari mangsa seperti ternak Kambing.


Warloka merupakan bagian dari wilayah Wae Wu’ul. Zona Wae Wu’ul adalah salah satu habitat asali dari binatang Komodo. Kawasan ini termasuk wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Besar Nusa Tenggara Timur (NTT). Desa ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Komodo.


Lokasi ini dapat ditempuh dengan perahu motor laut atau speed boat dari pelabuhan rakyat Labuan Bajo. Setiap hari selalu ada perahu motor dari Warloka ke Labuan Bajo dan setelah beberapa jam berlabuh di Labuan Bajo angkutan yang sama pulang kembali lagi ke Warloka. Perahu motor absen bila cuaca lagi tidak normal. Penyeberangan dengan speed boat akan menghabiskan waktu selama 15 menit.

Beberapa porselin dari Warloka 1953 di Museum Blikon Blewut Ledalero

Kemungkinan lain dapat juga melewati jalan darat. Dengan transportasi angkutan pedesaan dari terminal kota Labuan Bajo ke simpang tiga Merombok, Desa Golo Bilas. Berkaki sekitar 100 meter dari simpang itu menuju sungai Wae Teku Capi/Wae Mese. Musim kemarau bisa melintasi sungai ini dengan berkaki. 


Namun saat musim hujan menyeberang dengan sampan dan ongkosnya sebesar Rp.1.000-2.000 per-orang. Di seberang sungai tersedia speda motor ojek dengan biaya Rp.5.000 untuk melanjutkan perjalanan hanya sampai di dekat kampung Weor, Desa Macang Tanggar. Di sini dapat menyaksikan persawahan yang dibangun sejak tahun 1938 seluas 108 hektar. Dari kampung ini berkaki lagi menuju lokasi tujuan. Lama perjalanan sekitar 4 jam 30 menit.


Selama perjalanan akan melewati perumahan transmigrasi lokal (Translok) dan kampung Duwe. Sesudah itu melintasi padang rumput dan semak serta belukar hingga tiba di Warloka.


 Atau pilihan jalan darat dengan rute pemberangkatan dari Labuan Bajo ke Nanganae arah selatan dengan transportasi speda motor ojek. Jarak 30 km dari ibukota Kabupaten Manggarai Barat ke kampung/Desa Warloka. 


Misteri dan Mempesona 


Desa Warloka memiliki kisah tersendiri dari masa ke masa. Sebuah tempat ‘misteri dan pesona’. Beberapa karya tulis tentang lokasi yang unik dan menarik itu tatkala para penulis berkunjung pada bulan Juli-Agustus tahun 1950, tahun 1951 dan tanggal 21 Juli 1973.


Hendrik Hadi dalam Vox Seri 20/5/1973 menuangkan pengalaman berkunjung ke sini” “Hari itu tanggal 21 Juli 1973 . Tepat jam 15.00. Wit. Aku duduk. Dengan agak relaks. Beralaskan rerumputan. Di pinggir hutan nan rindang. Di atas puncak Werloka di lepas pantai barat Flores” (hlm.5).


Dari lokasi barang-barang kuno tampaklah sejauh mata memandang ke arah barat. “Pandangan kami terpancang pulau-pulau ke arah barat. Di sebelah kiri dan kanan, diantara pohon-pohon rindang bersemak yang barusan kulalui tadi, berserakan puluhan balok-balok besar yang panjangnya kurang lebih 4 m sampai dengan 5 meter” (hlm.6).


“Tiang-tiang dari balok-balok batu itu, terdapat dalam wilayah seluas sekitar 3 km2 sekitar sini. Puluhan balok berserakan dengan panjang kurang lebih 4 m hingga 5 m. Di atas puncak bukit di sana (sebelah kiriku, ada sebuah meja batu, di pulau Rinca di bawah sana, terdapat pula tiang dan balok batu seperti ini, juga di sana, di bukit di bawah sana (ke kanan) terdapat pula batu-batu seperti ini”, demikian keterangan bapak Willem Waku pada 39 tahun lampau.


Dua buah tiang dari batu, berbentuk seperti tiang kayu, sedang berdiri miring, tumbuh berdiri kokoh di atas tanah berkerikil yang keras. Keempat sisinya masing-masing licin bak diskap, dan bagian atasnya masing-masing berbentuk seperti sebuah ujung sebuah tiang kayu persegi empat. Posisi artefak-artefak yang berserakan di situ memberikan kesan seolah sedang ada persiapan membangun rumah baru.


Kunjungan Misionaris 

Desa (kampung) Warloka juga pernah mendapat kunjungan beberapa misionaris berkebangsaan Belanda. Mereka menamakan dirinya sebagai rombongan ekspedisi. Buku Pedoman Museum STF-TK Kampus Ledalero menulis: ”Lawatan itu terjadi pada bulan Agustus 1950 (62 tahun yang lampau) Tujuan antropolog, paderi Katolik dan uskup Ruteng ke sini untuk meneliti barang-barang antik. P. Dr. Th. Verhoeven, SVD. Ia merupakan promotor pendirian museum di Ledalero. Dan ia kembali ke negeri kincir Angin-Belanda, tempat kelahirannya tahun 1971. Mgr. van Bekkum, SVD dan pastor Mommersteeg.


Ketiganya adalah orang-orang perdana yang mengunjungi Warloka. Para Peneliti ini berkaki dari Labuan Bajo. Waktu tempuh dari Labuan Bajo hingga kampung Werloka disudahi selama 4 1/2 jam. Perjalanannya melintasi sebelah barat Labuan Bajo”. Setiba di sini, mereka menemui satu tempat bekas kampung (bandar) lama bernama Berloka (orang di sana lazim menyebut Werloka) yang kaya akan sisa-sisa kebudayaan megalith.

Beberapa porselin dari Warloka 1953 di Museum Blikon Blewut Ledalero


Ensiklopedi Indonesia dan Glinka, J. Dr. Dalam Antropogenese, Ledalero, 1975, halaman 15 mendeskripsikan kebudayaan megalith sebagai kebudayaan batu-batu besar. Batu-batu besar biasanya ditegakkan di tanah, digunakan pada upacara-upacara penguburan.


Tiang, balok dan meja batu di Werloka dan Rinca tentu peninggalan kebudayaan megalith, dipergunakan dalam upacara penguburan. Tiang dan balok batu seperti ini terdapat juga di Toraja, Sumba, Bondowoso, Pasemah (Sumatra Selatan). Diperkirakan peninggalan dari zaman neolithicum akhir zaman batu baru sekitar 4000-3000 tahun lampau.


Porselin dan Mata Uang 


Di tempat Warloka itu pun ada peninggalan barang-barang kebudayaan Tionghoa seperti, porselin, dan mata uang. Di atas permukaan tanah pada sebuah bukit dekat tempat tersebut mereka untuk pertama kalinya menyaksikan microlithen dan mereka mengumpulkannya.


Kemudian pada bulan Juli 1951, dibuat satu ekspedisi lagi ke Manggarai Barat, bersama beberapa siswa seminarI Mataloko. Mereka melakukan penggalian sistematis dalam Liang (gua) Momer dan Liang (gua) Panas dekat Labuan Bajo.


Penggalian ini menghasilkan penemuan alat-alat batu, tengkorak dan tulang-tulang manusia purba, yang kemudian dipastikan sebagai manusia Proto Negrito (tinggal di gua-gua, makan buah-buahan, akar-akaran dan hasil buruan). Penemuan yang sama didapat juga di buah gua dekat Longgo/Dalong (kini termasuk wilayah  Desa Watu Nggelek, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat).


Secara singkat dipaparkan disini peninggalan terpenting yang ditemukan sekitar Werloka. Pertama, Porselin Tiongkok, terdiri dari piring, buyung dan cangkir berasal dari Zaman Yung 960-1279, terdapat di kuburan Rinca dan Werloka. Bersama porselin terdapat pula mata uang. Kedua, alat-alat batu dari zaman batu tua dan tengah terdapat di dua buah bukit di Werloka dan sebuah bukit di pulau Rinca.


Dari penemuan-penemuan ini semua dapatlah disimpulkan untuk ilmu prasejarah dan sejarah bahwa dengan adanya porselin Tiongkok yang ditemukan di Flores dan sekitarnya, sudah sejak dahulu penduduk Indonesia, dan mungkin Flores khususnya, sudah punya hubungan dagang dengan daratan Asia, khususnya dengan Tiongkok.


Dengan penemuan alat-alat dari zaman batu tua dan tengah di bukit-bukit Werloka dan Rinca dan gua-gua dekat Labuan Bajo dan Longgo, dapatlah disimpulkan bahwa sejak 30.000 tahun lampau, bahkan lebih jauh dari situ, di wilayah Kecamatan Komodo ini sudah hidup makhluk yang bernama “manusia”.


Dari segi kepentingan ilmu pengetahuan wilayah Komodo mempunyai arti dan nilai dalam bidang arkeologi, prasejarah, sejarah, paleoantrologi, paleontologi dan geologi. (Benny Kasman)


Sumber : FBC 2013 


Tidak ada komentar