BreakingNews

Lembata Kabupaten Pariwisata, Ini Kata Bupati Lembata

Bupati Kabupaten Lembata Eliaser Yentji Sunur saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran Festival 3 Gunung Lembata 2018 dilakukan di Gedung Kementerian Pariwisata, Senin (7/5/2018)

Penulis : Benjamin Tukan


JURNALTIMUR,COM,- Pemerintah Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kian gencar mempromosikan potensi pariwisata. Sejak menduduki jabatan Bupati lima tahun silam, Bupati Kabupaten Lembata Eliaser Yentji Sunur langsung mendengungkan Lembata sebagai kabupaten Pariwisata. Bahkan tidak tanggung-tanggung destinasi wisata Wakatoby yang terlanjur popular sering disandingkan dengan potensi Lembata.


Bukan berlebihan keinginan Bupati Lembata mengangkat Lembata dari segi pariwisata. Walau selama ini Lembata hanya dikenal dari perburuan ikan paus tradisional Lamalera, potensi lain cukup menjanjikan. Lanskap alam yang original, unik dan indah serta kekayaan budaya yang beranekaragam, memberi harapan bahwa kabupaten ini akan menjadi incaran perhatian banyak pihak melebihi kabupaten-kabupaten tetangganya.


Banyak pihak meragukan gagasan menjadikan Lembata kabupaten Pariwisata. Alasan sederhana, infrastruktur Lembata masih jauh tertinggal, ekonomi masyarakat pun masih menemukan sekian permasalahan yang tak bisa dijawab pemerintah dengan menghadirkan sektor pariwisata. Belum lagi tingkat melek masyarakat akan pariwisata yang masih rendah, hanya akan membuka pintu masuk bagi orang luar yang lebih mampu untuk mengekspolitasi keindahan Lembata.


Bagai berlayar sambil menambal perahu, Bupati Lembata tetap bersikukuh untuk mengenjot pariwisata. Infrastruktur tetap dibangun, tapi pembangunan pariwisata tidak harus menunggu berakhirnya pembangunan infrastruktruktur. Karenanya kerja keras adalah jawaban agar sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.


Senin 7 Mei 2018 kemarin, Pemerintah Kabupaten Lembata meluncurkan  Festival 3 Gunung (F3G) 2018 di di Graha Bhakti Pesona Kementerian Pariwisata RI di Jakarta. Puncak kegiatan  22-29 September 2018 dengan menghadirkan keunikan dari tiga gunung  yang ada di Lembata yakni Ile Lewotolok, Ile Batutara, dan Ile Werung. Kabarnya, kegiatan ini  menelan anggaran 15 miliyar.


Dalam sambutan pada acara peluncuran, Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur mengatakan Kabupaten Lembata merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang emiliki potensi besar di sektor pariwisata seperti lanskap alam yang original, unik dan indah.

"Kekayaan budaya yang memiliki keanekaragaman menarik dan spetakuler yang sangat berpotensi menjadi salah satu destinasi favorit," ujar Bupati dua periode ini.

Menurut Bupati Yentji, jika potensi ini dieksplor dan dikelola serta dimanfaatkan secara optimal dengan melakukan pembangunan dan pengembangan daya tarik wisata yang visitabel, dan marketable, maka kabupaten Lembata mampu menjadi daerah tujuan wisata yang eksotis, sesuai dengan respek pariwisata Lembata


Bupati berargumentasi, dalam rangka menjadikan Lembata destinasi wisata yang baru diperlukan keberanian dan inovasi kebijakan yang strategis, dan sinergis dengan kebijakan pariwisata secara nasional, dalam grand desaign arah pembangunan dan sebagainya serta penguatan perencanaan pembangunan yang integriti.


Dikatakannya, RPJMD Kabupaten Lembata tahun 2017 – 2022 menempatkan pariwisata sebagai sektor utama dengan dua pilar pembangunan kepariwisataan yaitu pembangunan pariwisata dan pengembangan pariwisata dengan portfolio pada prodak pariwisata yang berkonsep tiga A. yang terbagi dalam tiga wilayah pengembangan yang berfokus pada peningkatan pasar dan promosi, pengembangan destinasi serta industrialisasi dan investasi.


"Pemahaman konsep tiga wilayah pengembangan didasarkan pada sebaran potensi daya tarik wisata seperti bukit dan pegunungan, alam pantai, pesona taman laut dan budaya yang masing-masing memiliki karakter yang berbeda," katanya.


Menurutnya, kebijakan pariwisata kabupaten Lembata dilakukan melalui even berkelanjutan, yaitu festival tiga gunung sebagai upaya mengangkat citra pariwisata kabupaten Lembata dengan berbagai aktivitas yang beragam,  pariwisata desa atau travel village, sebagai vocal poin dengan hasteg ekplore rural Lembata serta penguatan struktur budaya dan pengembangan atraksi,” ujarnya.


Apa yang diungkapkan Bupati Lembata ini tentu menjadi catatan untuk berbagai pihak yang peduli dengan Lembata. Sebagus-bagusnya keinginan pemimpin untuk membawa keluar masyarakat dari kesulitan hidup, tetap saja harus kembali mendapat persetujuan masyarakat berupa partisipasi dan pengawasan. 

Dua periode kepemimpinan Bupati Yentji akankah menjadi jalan yang baik untuk menata Lembata? Jawaban kembali pada Bupati dan masyarakat Lembata. 


Tidak ada komentar