BreakingNews

Hari Museum Nasional, Titus Pekei : “Museum Noken Masih Perlu Banyak Pembenahan”


JURNALTIMUR.COM,- Di tengah penganugerahan penghargaan yang diberikan kepada pemerhati dan pencinta museum di hari Museum Nasional, 12 Oktober 2018, pemerhati budaya Papua Titus Pekei memiliki obsesi untuk menjadikan Museum Noken Papua sebagai ruang budaya masyarakat, tempat mana setiap generasi Papua dapat belajar tentang sejarah masyarakatnya dan dapat melahirkan gagasan-gagasan baru berhubungan dengan kerja-kerja budaya. 


Menurut Titus Pekei, sekalipun saat ini sudah ada Museum Noken di Ekspo Waena-Jayapura, namun keberadaan ini masih perlu dibenahi sehingga tidak terkesan ditelantarkan atau berkurang minat orang untuk mengunjungi museum tersebut. 

Titus Pekei 


Titus Pekei, yang ditemui Jurnal Timur di Jakarta, usai menghadirkan acara pemberian penghargaan museum Indonesia Museum Award (IMA) 2018  di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, 14 Oktober 2018, mengatakan, di Papua telah berdiri Museum Noken, hanya saja pengelolaannya masih belum profesional termasuk kewenangan tentang siapa pengelolanya.


“Ketidakjelasan siapa yang semestinya bertanggungjawab dalam pengelolaan museum ini, sangat berpengaruh pada pengeloaan museum, apalagi mengharapkan kehadiran museum ini bisa bermanfaat bagi banyak orang, tentu tidak akan terjadi," kata Titus.


Pengelolaan museum, jelas Titus, bukan pekerjaan yang mudah, karena membutuhkan banyak sumber daya manusia, fasilitas yang memadai, ada beragam kegiatan dan promosi. Jika tidak, katanya, segala koleksi yang ada di museum ini lambat laun akan rusak dan orang tidak berminat untuk datang ke museum.


"Noken itu identitas orang Papua, yang mengandung begitu banyak nilai hidup, sejarah dan cerita tentang hubungan orang Papua dengan alam. Museum Noken tidak saja menjawabi tuntutan akan perlindungan warisan budaya yang merupakan kelanjutan dari pengakuan Unesceo, tahun 2012, tapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi, rekreasi dan sebagai wahana untuk riset atau penelitian,"jelasnya.


Ia mengaku, sejak berdirinya museum Noken di Waena Jayapura, ia sudah bermimpi menjadikan museum memiliki banyak koleksi noken dari berbagai daerah di Papua, juga merupakan tempat bertemunya generasi Papua dengan beragam aktivitas dan yang mengetahui sejarah masyarakatnya.


"Makanya, harus ada pengelolaan yang jelas termasuk pemerintah perlu mengandeng pihak swasta dan lembaga masyarakat,” kata Titus.


Ia berharap agar Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman segera turun ke Jayapura bersama pemerintah daerah memikirkan kembali pembenahan Museum Noken termasuk penyerahan pengelolaan kepada lembaga khusus.


"Jika pengelolaan diberikan kepada Yayasan Noken maka perlu ada kejelasan serah terima dan pembiayaan-pembiayaan yang menyangkut operasional,” harapnya. (Ben)


Tidak ada komentar