BreakingNews

KOLOM PASKALIS KOSSAY : Antara Harga Diri dan Sinisme Orang Wamena



Oleh Paskalis Kossay 


Wamena adalah nama ibu kota kabupaten Jayawijaya yang terletak di Lembah Baliem . Manusia yang berasal dari lembah agung ini disebut orang Wamena selayaknya sebutan orang lain yang berasal dari daerah tertentu.


Sebelum kabupaten Jayawijaya dimekarkan menjadi beberapa Kabupaten baru, semua orang dari wilayah sebelum pemekaran itu disebut orang Wamena. Setelah pemekaran pun masih disebut orang wamena.


Des, soal sebutan orang Wamena ini tidak masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah labelisasi sebutan Wamena kepada hal - hal negatif. Misalnya hal kekerasan, pembunuhan, pencurian, pembodohan, kemiskinan, semua hal jelek diasosiasikan Wamena. Dimana pembunuhan terjadi disebut orang Wamena, kerusuhan terjadi disebut orang Wamena, pencurian terjadi disebut orang Wamena, keributan terjadi orang Wamena. Semua peristiwa jelek, jahat, seram, bengis, kacau bermuara pada orang Wamena.


Akibat labelisasi kejelekan pada orang Wamena ini maka dengan sendirinya terbentuklah persepsi negatif melihat dan mendengar sebutan nama Wamena langsung berasosiasi jelek, jahat dan bodoh. Hal ini nyata ada dalam pergaulan sosial kemasyarakatan kita. Dan bahkan para elit pun labelisasi jelek pada orang Wamena masih kental . Labelisasi demikian masih terbawa dalam setiap pengambilan kebijakan publik di nama orang Wamena tidak bisa diberi ruang untuk bersaing dengan orang daerah lain.


Sampai saat ini setiap pejabat publik masih berpandangan sinis pada eksistensi orang Wamena. Mereka pada umumnya berpandangan orang Wamena belum mampu, masih bodoh, terus berasumsi orang Wamena tipe manusia jahat . Persepsi buruk ini terus tumbuh dan tersosialisasi dalam kehidupan keseharian kelompok masyarakat suku lain.


Secara manusiawi sangat dirugikan labelisasi jelek pada orang Wamena tersebut. Sebab tidak mungkin semua hal jelek dilakukan oleh orang Wamena. Pasti ada orang dari daerah lain juga mempunyai temperamen jelek, penjahat, pembunuh, dan pencuri. Tetapi karena sudah terlanjur labelisasi sekian lama, maka masyarakat umum tetap berpandangan semua hal jelek identik dengan temperamen orang Wamena.


Pandangan sinis ini terus berkembang sampai hari ini, tetapi Tuhan tidak buta dan tidak pernah tidur membela pada orang lemah, orang yang dikucilkan maka karya Tuhan sungguh luar biasa. Kini ditengah SINISME martabat orang Wamena, banyak bermunculan tokoh - tokoh hebat dari daerah yang dihina dina ini untuk berbicara banyak demi kemajuan papua dan Indonesia.


Sebut saja Lukas Enembe salah satu tokoh populis yang muncul dari daerah yang dihina itu. Datang dari daerah yang dihina Lukas Enembe membuktikan diri sebagai seorang tokoh pluralis dan pemersatu semua suku yang ada di papua. Lukas tidak membedakan suku hanya untuk orang wamena namun dalam kepemimpinnya merangkul semua orang sebagai saudara. 


Lukas Enembe melukis sejarah peradaban baru bagi orang Wamena sekaligus mengangkat derajat orang Wamena yang selama ini dipandang sinis sejajar dengan derajat orang dari daerah lain yang merasa lebih beradab selama ini. Nilai sejarah yang ditoreh oleh Lukas ini akan terus terpelihara dan dikembangkan dari generasi ke generasi . Semoga dengan munculnya sejumlah tokoh tersebut diharapkan semakin lama pandangan sinis pada orang wamena akan pudar dengan sendirinya.


Kepudaran sinisme tidak hanya terjadi dari ketokohan seseorang, melainkan juga terjadi karena kualitas nilai hidup seseorang. Oleh karena itu generasi muda orang Wamena diharapkan harus mampu bersaing dalam dunia peradaban baru yang penuh dengan saince dan tecknology ini. Hindari sejauh mungkin hal - hal buruk yang selama ini dilabeli jelek oleh orang dari daerah lain. Semoga.


Paskalis Kossay, Intelektual dan Politisi Papua 


Tidak ada komentar