BreakingNews

Sri Sultan dan Tri Rismahairni Dapat Penghargaan "Indonesia Museum Awards (IMA) 2018"




JURNALTIMUR.COM,- Dewan Juri Indonesia Museum Award (IMA) 2018 memilih Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Wali Kota Surabaya Tri Rismahairni untuk meraih penghargaan Indonesia Museum Awards (IMA) 2018. 


Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima penghargaan Purwakalagrha untuk kategori Tokoh Nasional Peduli Museum 2018. Sementara Tri Rismahairni mendapat pengharagaan Purwakalagrha sebagai  Pejabat Peduli Museum 2018.



Selain Sri Sultan Hamengku Buwono X  dan  Tri Rismahairni pengharagaan juga diterima Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung untuk kategori Museum Cerdas, 

Museum Pasifika, Bali untuk kategori Museum Lestari, dan Museum Tekstil, Jakarta untuk kategori museum Bersahabat dan Museum Unik diraih Museum Kematian Unair (Museum Etnografi FISIP Unair), Surabaya. 


Kategori Museum Populer diraih Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN), Jakarta, dan kategori Museum Inspiratif diraih Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Bogor, kategori. 


Penghargaan non museum untuk kategori Perguruan Tinggi Peduli Museum diraih Akademi Militer Magelang, kategori Media Peduli Museum  Net TV, Pejabat Peduli Museum Dr. Ir. Tri Risma Harini, MT, Pengusaha Peduli Museum: Haryanto Adikoesoemo, Pengabdian Sepanjang Hayat: Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, dan Duta Museum 2018: Irfan Hakim Firmansyah.



Penghargaan diberikan dalam acara peringatan Hari Museum Nasional yang berlangsung di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta pada 14 Oktober 2018.  Acara ini  mengusung tema Hyperconnected Museums: New Approaches, New Publics.


Ketua Dewan Juri Indonesia Museum Award 2018, Wiendu Nuryanti mengatakan pertimbangan memilih Sultan sebagai penerima award karena selama ini Sultan dipandang sebagai pencetus tiga pilar belajar yaitu sekolah, perpustakaan, dan museum.


“Gagasan tersebut hingga sekarang memengaruhi penyusunan kurikulum-kurikulum. Kami juga menggunakan referensi sabda beliau dan dijadikan sebagai pencetus belajar di luar sekolah,” kata dia, dikutip Antara.


Wiendu menilai di era modern saat ini, mulai jarang anak muda yang berinisiatif mengunjungi museum. Museum yang terkesan monoton menjadikan generasi sekarang enggan mendekat.


Wiendu Nuryanti berharap melalui ajang IMA 2018 ini dapat membuat museum mampu menempatkan dirinya di era digital sebagai sumber daya pembelajaran sepanjang hayat yang membangun karakter bangsa.  


Ketua Pelaksana Indonesia Museum Awards 2018 yang juga pendiri Komunitas Jelajah, Musiana Yudhawasthi mengatakan Risma dinilai layak karena memberikan sumbangsih nyata bagi perkembangan permuseuman di Kota Surabaya.


Kepala Museum Etonografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP Unair, Toetik Koesbardiati, mengatakan, Penghargaan itu merupakan sebuah prestasi yang tidak diduga.


Menko PMK, Puan Maharani, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Deputi Warisan Budaya, Pamuji Lestari, meminta agar di era globalisasi ini museum sebagai salah satu gudang informasi peradaban manusia harus "berbenah diri" dan membuat program-program terobosan sehingga museum semakin dilirik dan digemari oleh masyarakat.



“Perlu juga membuat Museum yang terkesan” instagramable ”, mengingat 81 juta (31,76%) penduduk Indonesia adalah generasi milenial yang sangat gemar berselfie ria di tempat yang unik, tidak terkecuali Museum," imbaunya.



IMA merupakan penghargaan tahunan yang diberikan untuk mengapresiasi dan melestarikan keberadaan museum di Indonesia. IMA 2018 yang digagas oleh Komunitas Jelajah ini merupakan penghargaan bagi para individu dan penggiat museum di tanah air yang digelar dalam rangka Hari Museum Indonesia yang diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Oktober.


IMA merupakan ajang tahunan yang memberikan penghargaan kepada pengelola museum dan tokoh permuseuman di Indonesia. Sejak dilaksanakan pertama kali pada 2012, penghargaan ini disebut Anugerah Purwakalagrha, berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang berarti Rumah Masa Lalu.


Tema yang diusung IMA 2018 adalah "Hyperconnected museums: New approaches, new publics", sebuah ungkapan yang mengandung harapan bahwa "Museums are an important means of cultural exchange, enrichment of cultures and development of mutual understanding, cooperation and peace among peoples".



Kali ini Anugerah Purwakalagrha diberikan untuk enam kategori. Bukan hanya museum. Sejumlah individu dan media pun memperoleh anugerah karena dinilai  telah memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan museum, yakni sebagai Tokoh Peduli Museum, Pejabat Peduli Museum, Pengusaha Peduli Museum, Perguruan Tinggi Peduli Museum, dan Media Peduli Museum.


Penghargaan khusus diberikan kepada tokoh yang sepanjang hidupnya memiliki andil besar bagi perkembangan museum dan heritage. Namanya  penghargaan Pengabdian Sepanjang Hayat (Lifetime Achievement).


Dewan Juri IMA 2018 terdiri atas Prof. Dr. Wiendu Nuryanti (Mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ketua Dewan Juri), Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, M.Sc (Mantan Menko Kemaritiman), Samuel Wattimena (Desainer), Anggit Hernowo (Praktisi Media), dan Dr. Yuliandre Darwis (Pakar Komunikasi dan Ketua KPI Pusat).


Hadir dalam IMA 2018 antara lain para anggota dewan juri; perwakilan Kemendikbud dan Pemprov DKI Jakarta; jajaran pengurus Asosiasi Museum Indonesia (AMI) dan Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) se-Indonesia; para pemerhati museum serta wartawan dan blogger. (*BN) 


Sumber : 
Dari Berbagai Media 


Tidak ada komentar