BreakingNews

Memuji dan Memuliakan Nama Tuhan Dengan Puisi


JURNALTIMUR.COM---Setiap orang punya caranya sendiri dalam berkomunikasi serta memuliakan nama Tuhan Yesus. Bagi masyarakat gerejawi, biasanya memuliakan nama Tuhan dengan cara menjadi pelayan di “rumah” Tuhan, baik itu sebagai pemain musik maupun sebagai petugas liturgis dan petugas gereja lainnya. Akan tetapi, Frans Ekodhanto Purba, penyair berdarah Batak kelahiran Desa Sei Suka Deras punya cara tersendiri untuk berkomunikasi dan memuliakan nama Tuhan, cara itu tidak lain dan tidak bukan adalah dengan berpuisi.
kolase ketika launching buku Ontologi Puisi
Buku Puisi, “Marhajabuan” ini merupakan buku antologi puisi tunggal kedua Frans Ekodhanto Purba yang terbit pada Oktober 2018. Sedangkan buku antologi puisi tunggal yang pertamanya terbit pada 2013 dan diluncurkan di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

“Dengan berpuisi saya bisa memuji dan memuliakan nama Tuhan. Maka, dalam berkarya saya selalu mincipta yang terbaik dari antara yang terbaik,” ujar Frans.

Bapak dari Adriell Cirrillo Purba ini juga mengungkapkan, selain lewat doa dirinya juga menjadikan puisi sebagai alat komunikasi dengan Tuhan. Dengan berpuisi ia bisa bercerita apa saja dengan Tuhan, baik tentang kepayahan, kegagalan, kebahagian, rezeki, harapan dan apa saja yang ia curhatkan dan tuliskan kepada Tuhan.

Hal tersebut kemudian dapat dilihat pada puisinya yang berjudul, “Tardidi #2” (halaman 83-84).  Tahukakh kau//sejak kelahiranmu//gerimis pengharapan//tak pernah redah dari nafas mamak//senantiasa membasuh ronarona kerontang//ketika malam sampai pada puncaknya//ya, saat orangorangdibuai mimpi lelap//mamak selalu mengirimkan doa//pada lelangit hitam.

Puisi tersebut menjadi semacam cerita penyair kepada anaknnya tentang kasih sayang seorang ibu sekaligus curhatan Frans kepada Tuhan tentang harapannya kepada anaknya yang baru lahir. Sebab pada bait berikutnya, penyair dengan gamblang menyampaikan keresahan, kegelisahan sekaligus harapan terhadap anak pertamanya yang baru lahir itu.

Agar kelak nasibmu beroleh// kebahagiaan abadi//dan kesakitan yang ini://amitamit//tak terulang lagi//sungguh tiada mampu// melihatmu kembali larut dalam pesakitan//dikucilkan karena kemelaratan panjang//tanpa ujung pangkal.

Hal senada juga disampaikan Frans pada puisinya yang berjudul, “Marhajabuan”. Puisi yang dijadikan judul dari buku ini juga bercerita tentang kegelisahan, keresahan, harapan serta ‘curhatan’-nya kepada Tuhan-nya.

Nak, telah kubangun rumah//paling rumah di hatimu yang perdu//menjadi tempat kita menyimpan puisi//dalam jantung yang merdu// di sana, tak ada lagi kecemasan//apalagi ketakutan tentang penggusuran//serupa di kampung mereka//sebab, rumah ini kubangun//dari katakata menjelma doa//senantiasa dipanjatkan pada seperempat malam.

Dengan kata lain, ke-65 judul puisi yang ditulis pada 2013 hingga 2018 dan terangkum dalam buku Marhajabuan ini bagi Frans tidak sekadar menjadikan puisi sebagai puisi; serangkaian kata-kata indah, berbalut metafor apalagi sekadar menunjukkan kebolehannya dalam merangkai diksi menjadi metafor-metafor yang mekar di ingatan. Akan tetapi, lebih dari itu; Frans, menjadikan puisi sebagai alat komunikasi tentang kecintaannya kepada istri, anak, keluarga dan semua manusia serta ketakjubannya kepada Tuhan Yang Maha Kasih.

Selain dalam puisi, pada acara peluncuran buku puisi yang belum lama ini digelar di Galeri Nasional Indonesia, pada Jumat, 2 November 2018, Frans juga membagikan buku puisinya ke 10 sekolah negeri yang ada di Jakarta, Perpustakaan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, 9 komunitas dan 2 yayasan secara gratis.

“Selain sebagai salah satu cara untuk memasyarakatkan puisi, pembagian buku-buku puisi tunggal saya yang kedua ini merupakan salah satu bentuk kongkrit dari kasih sayang saya kepada peserta didik sekaligus kepedulian saya terhadap masa depan pendidikan Indonesia,” pungkasnya.(frn/sfn)

Tidak ada komentar