BreakingNews

Pidato Kebudayaan Saras Dewi, Ajakan untuk Kembali ke Alam


Pidato Kebudayaan Saras Dewi
Penulis : Benjamin Tukan 

JURNALTIMUR.COM,- Tidak ada daya muslihat pada alam. Alam adalah angan-angan terhadap yang nirmala, segala yang murni dan baik. Alam tidak saja bumi yang dipijak, tempat bernaung, tetapi juga ruang menyejarah bagi manusia. Alam menuangkan saripatinya menyangga kehidupan, tidak terkecuali manusia yang tergantung terhadapnya. 


Obyek dari pada pengetahuan adalah elemen –elemen alam, yakni tanah, air, cahaya, dan udara. Alam adalah isian dari pengetahuan manusia dapat dicapai melalui persepsi, penyimpulan, perbandingan dan kesaksian. Alam sarat dengan nilai-nilai yang penting untuk dipelajari.


Aktivis  Lingkungan Hidup yang juga penjajar filsafat Universitas Indonesia, Saras Dewi mengungkapkan hal itu sebagai pembuka pidato kebudayaannya, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat, Sabtu 10 November 2018.


Dalam pidato yang diberi judul "Sembayang Bhuvana", Saras Dewi mengungkapkan perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi bumi kita. Perubahan ekstrem ini diakibatkan peran manusia, meningkatnya produksi emisi yang terjadi dikarenakan tidak terkendalinya pembangunan. Dampaknya adalah pencemaran pada tanah, air dan udara dalam skala massal, hingga kepunahan spisies-spesies.


Menghilangnya alam liar dalam kehudupan manusia selain menimbulkan malapetaka serta kebencanaan, dari perpektif eksistensialisme, menimbulkan pula disorientasi. "Dimanakah dan ke manakah arah bagi manusia saat hutannya dibinasakan, gunungnya ditambang, teluknya ditimbun?  Siapakah manusia ketika alamnya tergerus menuju kepunahan? Pantaskah ia dinyatakan sebagai makhluk yang berbudi, saat ia telah gagal menjaga kesimbangan yang retan tersebut?", tanyanya. 


Belajar dari alam, kata Saras Dewi,  berarti melihat bahwa kehidupan terus bergulir, laju transformatif  adalah keniscayaan . "Itulah proses alamiah, ada kelahiran, kehidupan lalu kematian, kemudian seterusnya. Manusia tidak dapat menyangkal proses ini. Merefleksikan kedemawanan alam, kita dapat mengetahui bahwa kehidupan adalah anugerah, peristiwa istimewa yang perlu dirayakan dengan penghayatan dalam keseharian kita."ungkapnya.


Ia menguraikan, seseorang yang memiliki pengetahuan terikat dengan kewajiban-kewajiban untuk bersikap adil dan menegakan dharma. Latihan pikiran untuk selalu konsisten dan kritis, bukan bertujuan hanya untuk menyempurnakan retorika, tetapi harus mendorong sesorang itu untuk dapat bertindak adil dan berbelas kasih. Bebas bertindak tapi selalu terikat secara etis terhadap pilihannya.


 " Harapan dari pencarian pengetahuan itu perlu ditegaskan demi kepentingan yang lebih baik dan didasari motif yang arif,"ujarnya. 


Menurutnya, menimbang krisis lingkungan hidup yang mendera bumi ini, panggilan perubahan itu kini menjadi sirene yang nyaring. "Perubahan menjadi suatu keharusan sebab saat ini kita tengah berpacu melawan kepunahan," jelasnya. 


Untuk menghadapi hal ini, salah satunya melalui revolusi ekologis dengan disokong teknologi yang optimal dan bertanggungjawab atau dengan kehadiran teknologi yang memperluas demokratisasi.


"Sains dan teknologi memang tidak terpisahkan dari upaya untuk membangun politik ekologi yang tidak sekedar jargon. Kita memiliki kekuasaan untuk menjaga bumi dengan segenap kemampuan saintifik dan teknologis," katanya. 


Ditegaskannya, kita harus menyongsong semangat zaman yang baru, yang meninggalkan kecenderungan manusia yang selalu destruktif terhadap alam. Jika manusia mampu merobohkan, maka kita harus dapat membayangkan bahwa manusia juga sanggup merekontruksi. 


"Mempelajari kekurangan serta keterlambatan nalarnya lalu menggunakan segenap intektualnya untuk menebus kesalahan-kesalahan itu," jelasnya. 


Dalam kesempatan itu, Saras Dewi juga mengajak masyarakat umum untuk menggunakan kehendak politiknya, mengawasi dan mendorong pemerintah untuk mencipatakan kebijakan-kebijakan yang bermotif ekologis. 


Pidato kebudayaan merupakan tradisi tahunan Dewan Kesenian Jakarta yang  berlangsung setiap  10 November.  Pidato kebudayaan kali ini dihadiri Gubernur Jakarta Anies Baswedan. 

Tidak ada komentar