BreakingNews

Sudah Tiga Minggu Nelayan di Borong-Matim Tidak Melaut

Nelayan Borong sedang mengecat Perahu motor dan memperbaik pukat


JURNALTIMUR.COM,- Tiga pekan terakhir nelayan di pesisir Pantai Borong,  Kabupaten Manggarai Timur ( Matim) tidak bisa melaut karena gelombang tinggi  disertai angin kencang  di Laut Sawu.


Pantuan JURNALTIMUR,  Senin 28 Januari 2019 di pinggir pantai selatan Borong, Muara Wae Bobo, tampak puluhan perahu motor sedang diparkir. Para nelayan ada yang sedang mengecat perahu, dan menjahit jaringan pukat yang putus. 


Muhamad Ali Nelayan Borong yang ditemui JURNALTIMUR  di pinggir pantai mengatakan sudah tiga minggu nelayan Borong tidak melaut disebabkan angin kencang disertai  gelombang tinggi yang tidak hanya terjadi  ditengah laut namun juga dipinggir pantai Borong.


"Bahkan ada nelayan yang nekat melaut dan harus terdampar hingga pantai Nangga Rawa Kecamatan Kota Komba dan perahu motor baru bisa kembali setelah cuaca membaik,"katanya. 


Dia mengatakan cuaca ekstrim dengan gelombang tinggi tidak memungkinkan  ada nelayan yang melaut. Sebagian besar nelayan memilih memperbaiki perahu motor, menjahit kembali pukat yang sobek, mengecat perahu motor dan sebagian memilih menjadi buruh kasar kulih bangunan, tukang kayu dan juga ojek.


Untuk kebutuhan sendiri biasanya nelayan mencari ikan di pinggir pantai, memancing di sekitar dermaga, hal itu supaya tidak ada uang untuk pengeluran membeli ikan di pasar. Nelayan akan kembali mencari ikan jika  cuaca sedikit lebih baik. "Kita berharap cuaca segera membaik supaya kami  bisa mencari ikan lagi"katanya.


Dia mengatakan hampir semua nelayan di pinggir selatan Manggarai Timur dari Wae Lengga hingga Nanga Lanang tidak ada yang berani mencari ikan. Gelombang arus bawah laut sangat deras, kapal nelayan tidak berani jalan karena takut tengelam dan ditarik arus.


Hal yang sama disampaikan nelayan lain Ahmad. Dia mengungkapkan cuaca di peraian Borong sudah tidak bersahabat sejak Bulan Desember lalu, ada nelayan yang nekat namun ada juga yang lebih memilih mengamankan diri dengan mencari pekerjaan lain yang bisa menghasilkan uang seperti ojek, jual-jualan dipasar Borong.


Dikatakannya,untuk menghidupkan ekonomi rumah tangga tidak ada pilihan lain kecuali bekerja sampingan, karena kalau mengharapkan hasil tangkapan ikan tidak bisa. " Pendapatan hampir tidak ada, dan untuk bisa membeli beras harus bekerja menjadi buruh kasar, sambil membenah alat penangkapan, termasuk mencat kapal dan memperbaiki perahu motor yang rusak" tandasnya. 


Sementara seorang ibu biasa disapa  Maimuna salah satu penjual ikan di Pasar Borong, mengatakan saat ini  harga ikan di Pasar Borong sedikit naik karena ikan didatangkan dari Labuan Bajo, Pulau Ende, Airmere. Dari Nelayan Borong tidak ada pasokan ikan ke Pasar.


 "Ikan yang ada juga sangat terbatas, dan kalau ada ikan hasil tanggapan nelayan Borong itu hanya ikan tembang" jelas Maimuna


Dia menuturkan saat ini ikan yang tersedia di Pasar Borong ikan cakalang, tembang, kombong padi, dan ikan tuna. Harga ikan tergantung besar kecil, tetapi umumnya harga sedikit naik karena ongkos angkut sedikit mahal. "Ongkos angkut dari Labuan Bajo mahal sehingga harga ikan juga ikut,"katanya.


Walaupun harga naik, stok ikan tetap stabil di Pasar Borong . "Daya beli masyarakat sedikit sedikit menurun karena mereka lebih memilih ikan kering, tahu dan tempe serta daging ayam"tambahnya. (Rony)

Tidak ada komentar