HALSEL – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, mencatat sekitar 30 titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Agustus 2026. Sebagian besar kejadian terkonsentrasi di wilayah ibu kota Labuha dan sejumlah kawasan sekitarnya.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Halsel, Indra Faris, mengatakan kebakaran terjadi di sejumlah lokasi, di antaranya Desa Tuokona, Panamboang, Marabose, hingga Kampung Makian di sekitar Masjid Agung Al Khairaat.
Tingginya intensitas kebakaran membuat personel Damkar harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk melakukan pemadaman sekaligus mencegah api meluas ke permukiman dan kawasan yang lebih padat penduduk.
“Kurang lebih 30 titik pemadaman karhutla di wilayah ibu kota Labuha,” ungkap Indra, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan dipicu berbagai faktor, salah satunya aktivitas manusia. Pembakaran rumput, semak belukar, serta lahan untuk kepentingan perkebunan dan pertanian menjadi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Selain itu, puntung rokok yang masih menyala dan sisa api dari aktivitas masyarakat yang tidak dipadamkan secara sempurna juga dapat menjadi pemicu kebakaran, terutama ketika kondisi vegetasi mengering akibat suhu tinggi dan minimnya curah hujan.
Indra menjelaskan, kondisi kemarau panjang yang melanda wilayah Halsel, ditambah tiupan angin kencang, membuat api lebih mudah menjalar dan membesar. Rumput, ranting, serta semak yang mengering menjadi material mudah terbakar sehingga meningkatkan risiko meluasnya karhutla.
“Banyak faktor penyebab kebakaran karhutla. Saat ini memasuki kemarau panjang disertai angin kencang, sehingga membuat api cepat merembet dan membesar,” jelasnya.
Damkar Halsel memperkirakan kondisi kemarau panjang masih berlangsung hingga Oktober 2026. Sementara itu, September diprediksi menjadi periode paling rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Pembakaran rumput, semak, maupun sampah di ruang terbuka perlu dihindari, terutama saat cuaca panas dan angin bertiup kencang.
Masyarakat juga diminta memastikan api benar-benar padam setelah melakukan aktivitas yang melibatkan pembakaran serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Indra menegaskan, potensi kebakaran tidak hanya mengancam kawasan lahan terbuka di sekitar ibu kota kabupaten, tetapi juga wilayah perkotaan dan sejumlah titik di Kecamatan Gane.
Dalam penanganan karhutla, personel Damkar turut mendapat bantuan dari TNI dan Polri. Meski demikian, luasnya wilayah Kabupaten Halmahera Selatan menjadi tantangan tersendiri dalam menjangkau seluruh titik kebakaran.
Karena itu, keterlibatan masyarakat dinilai penting, terutama untuk melakukan pencegahan sejak dini dan segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan masing-masing.
“Di wilayah kota juga rawan terjadi kebakaran. Kemudian, di beberapa titik di wilayah Gane juga ada kebakaran. Proses pemadaman api yang dilakukan tim Damkar juga dibantu oleh TNI/Polri. Harapan kami, masyarakat turut berpartisipasi dalam mencegah karhutla, karena semua titik tidak bisa dijangkau oleh Damkar,” pungkasnya.
Penulis: RI



