HALSEL – Upaya Mendukung Ketahanan Pangan dan mengoptimalkan penggunaan lahan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Selatan menyiapkan 2.500 hektare untuk Program Peremajaan Kebun Kelapa , dan Uji Coba Padi Gogo.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Halsel, Muhammad Nur, mengatakan uji coba padi gogo merupakan bagian dari riset pengembangan sektor agromaritim, khususnya dalam mengoptimalkan potensi perkebunan kelapa.

Menurutnya, hasil pengamatan menunjukkan masih terdapat ruang di antara pohon kelapa yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kondisi itu dinilai membuka peluang untuk mengembangkan tanaman pangan yang sesuai dengan karakteristik lahan perkebunan.

“Salah satu komoditas yang akan diuji adalah padi gogo, yakni jenis padi yang dibudidayakan di lahan kering. Jarak tanam kelapa sekitar tujuh sampai delapan meter. Ada ruang di antara pohon-pohon itu yang bisa kita kaji untuk dimanfaatkan menanam padi gogo,” ujar Muhammad Nur di ruang kerjanya, Jumat (2/10/2026).

Ia menjelaskan, pengembangan tersebut masih dalam tahap uji coba. Pemerintah daerah akan meneliti kesesuaian varietas padi dengan kondisi lahan dan tingkat naungan di bawah pohon kelapa sebelum mempertimbangkan penerapannya dalam skala lebih luas.

“Tiga varietas yang direncanakan untuk diuji meliputi IPB Garuda G9, Rindang 1 atau Rindang 2, serta Inpago 9,” ungkapnya.

Varietas tersebut menjadi pilihan untuk dikaji berdasarkan karakteristiknya terhadap kondisi lahan kering dan paparan sinar matahari yang terbatas. Namun, tingkat keberhasilan budidayanya di bawah tegakan kelapa masih harus dibuktikan melalui pengujian langsung di lapangan.

“Jika hasil riset menunjukkan perkembangan positif, konsep tersebut berpeluang dikembangkan lebih luas mulai 2028,” katanya.

2.500 Hektare Kebun Kelapa Disiapkan untuk Peremajaan

Selain menguji pola tanam padi gogo, Pemkab Halsel juga menaruh perhatian pada peningkatan produktivitas perkebunan kelapa. Salah satu langkah yang direncanakan adalah program peremajaan pada lahan seluas sekitar 2.500 hektare.

Muhammad Nur mengatakan, peremajaan diharapkan dapat memperbaiki produktivitas tanaman sekaligus menjaga keberlanjutan kelapa sebagai salah satu komoditas unggulan Halmahera Selatan.

“Peningkatan produksi tidak cukup hanya mengandalkan luas perkebunan atau jumlah pohon. Pemeliharaan tanaman, termasuk pemupukan dan perawatan kebun, juga perlu diperhatikan agar hasil produksi dapat lebih optimal,” katanya.

Karena itu, pengembangan perkebunan kelapa diarahkan tidak hanya pada peremajaan tanaman, tetapi juga pada pemanfaatan lahan secara efisien dan peningkatan kualitas hasil produksi.

“Pemanfaatan ruang di antara pohon kelapa untuk menanam komoditas pangan yang sesuai juga diharapkan dapat memberikan manfaat tambahan bagi petani sekaligus mendukung diversifikasi pangan daerah,” imbuhnya.

Bapperida Dorong Hilirisasi Produk Kelapa

Di sektor pengolahan, Bapperida Halsel turut mendorong hilirisasi kelapa agar komoditas tersebut tidak hanya dijual dalam bentuk kopra atau bahan mentah.

Muhammad Nur mengatakan, pengembangan industri pengolahan skala lokal berpotensi meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Produk yang dapat dikembangkan antara lain minyak kelapa, minyak goreng, dan minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO).

“Melalui pengolahan tersebut, petani dan pelaku usaha diharapkan memiliki lebih banyak pilihan produk untuk dipasarkan. Langkah ini juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap penjualan bahan mentah yang harganya dapat mengalami fluktuasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan industri kelapa perlu disesuaikan dengan karakteristik Halmahera Selatan sebagai daerah kepulauan. Kondisi geografis menjadi salah satu tantangan dalam menarik investasi berskala besar sehingga penguatan usaha pengolahan di tingkat lokal dan masyarakat perlu mendapat perhatian.

“Produksi VCO telah dijalankan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Makian dan Kayoa. Pengalaman tersebut dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan usaha pengolahan kelapa lebih lanjut,” paparnya.

Melalui riset budidaya padi gogo, rencana peremajaan kebun, dan pengembangan industri pengolahan, Pemkab Halsel berharap potensi kelapa dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas perkebunan dan memperluas dukungan terhadap ketahanan pangan daerah.

Penulis: RI